PANGANDARAN, CEKBER.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dilihat Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Pangandaran sebagai pasar baru bagi pedagang tradisional. Organisasi pedagang ini ingin memasukkan pelaku pasar ke dalam rantai pasok bahan pangan untuk dapur-dapur MBG.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Daerah (Musda) sekaligus pelantikan kepengurusan baru APPSI Kabupaten Pangandaran, Senin 21 September 2026.

Sekretaris APPSI Jawa Barat, Yudi Setia Kurniawan mengatakan, keterlibatan pedagang pasar dalam program MBG berpotensi membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus memperluas manfaat program pemerintah.

Menurut dia, berdasarkan informasi yang disampaikan Badan Gizi Nasional (BGN), pasar memiliki peluang untuk ikut memasok kebutuhan bahan pangan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Artinya ada keterlibatan masyarakat luas, dalam hal ini pedagang juga ikut terlibat dalam menyuplai dapur-dapur MBG yang ada di seluruh Indonesia,” ujar Yudi.

Bagi APPSI, rantai pasok MBG bukan semata persoalan distribusi bahan pangan. Program tersebut juga menjadi peluang untuk menghubungkan pasar tradisional dengan belanja kebutuhan pangan dalam skala besar.

Keterlibatan pedagang, kata Yudi, diharapkan membuat manfaat ekonomi MBG tidak berhenti pada penyedia dapur atau pemasok tertentu, tetapi turut mengalir kepada pedagang dan pelaku usaha di pasar tradisional.

Pasar Tradisional Didorong Beradaptasi

Yudi menambahkan, pembaruan kepengurusan APPSI Pangandaran diperlukan untuk mengoptimalkan peran organisasi dalam menghadapi perubahan perdagangan.

Persoalan permodalan, revitalisasi pasar, peningkatan kapasitas pedagang dan digitalisasi disebut masih menjadi pekerjaan rumah.

“Masalah permodalan, masalah revitalisasi, juga teknologi, digitalisasi pasar-pasar tradisional yang hari ini memang kalau tidak bergerak kita ketinggalan jauh dengan pasar online,” ujarnya.

Pedagang Pangandaran Belum Masuk Rantai Pasok MBG

Ketua APPSI Kabupaten Pangandaran terpilih, Iim Haliman, mengakui pedagang di daerahnya sejauh ini belum terlibat langsung dalam memasok kebutuhan bahan pangan untuk program MBG.

Karena itu, kepengurusan baru APPSI Pangandaran ingin membuka komunikasi dan kolaborasi dengan pihak pengelola program MBG di daerah.

“Untuk saat ini belum. Makanya mudah-mudahan seperti Pak Yudi tadi, kita bisa masuk berkolaborasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” kata Iim.

Keinginan tersebut menjadi salah satu agenda baru APPSI setelah kepengurusan organisasi diperbarui melalui Musda. Organisasi pedagang itu tidak hanya ingin bertahan sebagai wadah advokasi, tetapi juga memperluas akses ekonomi bagi anggotanya.

Iim menyebut jumlah pedagang yang telah terdata dalam keanggotaan APPSI Pangandaran kini mencapai lebih dari 2.000 orang dan mendekati 3.000 pedagang.

Dengan basis anggota tersebut, APPSI melihat pasar tradisional memiliki kapasitas untuk menjadi salah satu simpul pengadaan bahan pangan apabila skema keterlibatan pedagang dalam rantai pasok MBG dapat diwujudkan.

Dari Revitalisasi Pasar hingga Sembako Murah

Selain membidik rantai pasok MBG, kepengurusan baru APPSI Pangandaran menyiapkan sejumlah program untuk memperkuat posisi pedagang pasar.

Agenda tersebut mencakup perbaikan fasilitas pasar tradisional, modernisasi perdagangan, digitalisasi pedagang hingga pengadaan sembako dengan harga terjangkau melalui kolaborasi antaranggota APPSI.

“Insyaallah akan ada program APPSI untuk berkolaborasi untuk pengadaan bahan sembako murah,” ujar Iim.

Menurut dia, cakupan organisasi tidak akan dibatasi pada pedagang di pasar tertentu. APPSI Pangandaran menargetkan pedagang dari berbagai jenis pasar di seluruh wilayah kabupaten dapat terakomodasi.

“Seluruh Kabupaten Pangandaran. Pasar desa, pasar tradisional kecamatan, pasar wisata, semua kita akan akomodir,” katanya.

Digitalisasi juga menjadi bagian dari agenda organisasi. Salah satunya dengan mendorong penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS agar pedagang pasar mampu mengikuti perubahan pola transaksi konsumen.

Musda dan pelantikan pengurus baru digelar setelah masa berlaku SK kepengurusan APPSI Pangandaran sebelumnya berakhir.

Dengan struktur baru, APPSI Pangandaran kini membawa agenda yang lebih luas: mempertahankan eksistensi pasar tradisional sekaligus mencari ruang baru bagi pedagang dalam ekonomi yang semakin terdigitalisasi.

Program MBG menjadi salah satu pintu yang ingin dimasuki. Jika kolaborasi dengan pengelola MBG terealisasi, pedagang pasar Pangandaran tak lagi hanya menjadi tempat masyarakat berbelanja, tetapi berpeluang mengambil posisi sebagai bagian dari rantai pasok program pangan pemerintah.