PANGANDARAN, CEKBER.com – Gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2026 semestinya menjadi pesta kemeriahan rakyat. Namun, pemandangan kontras justru tersaji di cabang olahraga pacuan kuda yang digelar di Lapangan Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran.
Pada hari pertama pelaksanaannya, Sabtu 7 November 2026, ajang level provinsi ini mencetak rekor muram: menjadi gelaran balap kuda tersepi sepanjang sejarah di kawasan tersebut.
Alih-alih dipadati ribuan pasang mata, area lintasan hingga tribun penonton tampak lengang bak tak berpenghuni. Berdasarkan pantauan di lapangan, mayoritas yang memadati tribun hanyalah rombongan peserta, ofisial, dan pendukung kontingen kabupaten/kota. Penonton umum di luar rombongan diperkirakan tak lebih dari 100 orang.
Kondisi ini memantik tanda tanya besar terkait keseriusan panitia penyelenggara. Padahal, Legokjawa memiliki rekam jejak panjang sebagai magnet olahraga yang selalu sukses menyedot ribuan warga.
Disfungsi Promosi dan Persiapan Seadanya
Kritik tajam datang dari warga setempat. Andi, salah seorang warga, menilai acara ini gagal total dalam merangkul animo masyarakat. Ia mengenang masa lalu ketika balapan tradisional yang digelar saat Lebaran selalu disemuti warga.
”Zaman dulu itu tempat start hanya pakai tali rafia, tapi ramai. Sekarang peserta dari kabupaten/kota memang banyak, tapi penduduk lokal yang nonton secara kasat mata mungkin hanya sekitar 15 orang,” sentil Andi, Sabtu 7 November 2026.
Matinya gaung Porprov Jabar di Pangandaran ini diduga kuat akibat minimnya persiapan dan disfungsi promosi. Menurut Andi, pada ajang sebelumnya, panitia sudah sibuk menata lokasi, membersihkan area, dan menggemakan informasi sejak empat hari sebelum hari H. Kali ini, tak ada tanda-tanda sosialisasi yang memadai.
”Kesan yang timbul justru seperti tidak akan ada event balap kuda,” tambahnya.
Lomba Berjalan Singkat bak Latihan Rutin
Buruknya manajemen acara tak berhenti pada urusan promosi. Kualitas hiburan untuk penonton pun dipangkas habis. Panitia hanya menyajikan sekitar empat race dalam sehari. Dengan total delapan race selama dua hari penyelenggaraan (7-8 November), pertandingan sudah harus berakhir pada pukul 11 siang.
Durasi kegiatan yang hanya berlangsung tiga jam ini jelas mengecewakan. “Biasanya bisa sampai 10 race ke atas. Masyarakat tidak punya banyak tontonan, jadi kurang menarik,” keluh Andi.
Pedagang Gigit Jari di Tengah Hajatan Provinsi
Dampak paling nyata dari amburadulnya penyelenggaraan ini dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. Harapan para pelaku UMKM untuk mendulang cuan dari multiplier effect Porprov Jabar pupus seketika. Deretan lapak pedagang di sepanjang jalan menuju arena sepi pembeli.
Iar, salah seorang pedagang, mengaku omzetnya terjun bebas. “Sekarang sepi. Bisa balik modal saja sudah alhamdulillah. Kalau event dulu, kami sampai kewalahan melayani pembeli,” ujarnya dengan nada pasrah.
Sepinya penonton bukan sekadar asumsi. Iar menceritakan sebuah ironi ketika temannya sendiri yang mampir ke warungnya seusai azan Zuhur sama sekali tak tahu menahu ada gelaran balap kuda. “Dia tanya, tadi habis ada apa? Saya jawab ada balap kuda. Dia benar-benar tidak tahu,” paparnya.
Kegagalan panitia dalam mengemas dan mempromosikan Cabor Pacuan Kuda Porprov Jabar 2026 di Pangandaran ini harus menjadi catatan merah. Keberhasilan sebuah ajang olahraga bukan sekadar terlaksananya pertandingan di atas kertas, melainkan sejauh mana ia mampu menghidupkan denyut ekonomi dan kebanggaan masyarakat tuan rumah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan