PANGANDARAN, CEKBER.com – Kanker payudara masih menjadi momok mematikan dan menempati urutan pertama sebagai penyakit kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di Indonesia. Sayangnya, minimnya literasi membuat banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.

​Merespons kondisi tersebut, RSUD Pandega Pangandaran menggelar program edukasi bertajuk NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) pada 23 Oktober. Kegiatan yang berlangsung di ruang tunggu poli dalam ini mengusung tema “Kanker Payudara: Kenali Risiko dan Gejalanya”.

​Angka Kasus Tinggi, Jangan Tunggu Stadium Lanjut

​Tampil sebagai narasumber utama, dr. Juliawan Perminanto, Sp.B, selaku Dokter Spesialis Bedah RSUD Pandega Pangandaran, memaparkan fakta mengejutkan. Kasus kanker payudara di seluruh Indonesia menyentuh angka 25.000 kasus per tahun.

​”Banyak ibu-ibu datang berobat ke rumah sakit seringkali dalam keadaan stadiumnya sudah cukup tinggi, bukan stadium awal,” jelas dr. Juliawan.

Kondisi keterlambatan penanganan ini kerap memicu komplikasi parah, kecacatan, hingga melonjaknya biaya pengobatan. Sebaliknya, jika pasien datang lebih awal, angka kesembuhan jauh lebih tinggi dan biaya yang terbuang bisa diminimalisir. Sayangnya, banyak penderita yang memilih lari ke pengobatan non-medis karena rasa takut, lalu baru kembali ke rumah sakit saat kondisi sudah memburuk.

Kenali Ciri Benjolan Curiga Kanker

​Dalam edukasinya, dr. Juliawan menegaskan bahwa tidak semua benjolan di payudara adalah kanker. Namun, masyarakat harus waspada terhadap ciri-ciri benjolan yang mengarah pada keganasan, antara lain:

• ​Adanya benjolan yang terasa keras saat diraba.

• ​Perubahan bentuk kulit payudara yang menjadi kasar atau tampak berpori besar seperti kulit jeruk.

• ​Perubahan pada puting, seperti masuk ke dalam, lecet, atau mengeluarkan cairan dan darah.

​Faktor Risiko yang Sering Diabaikan

Kanker payudara bisa dipicu oleh berbagai faktor risiko, baik gaya hidup maupun hormonal. dr. Juliawan menyebutkan beberapa faktor pemicu, di antaranya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji (fast food), riwayat genetik atau keluarga, hingga faktor hormonal reproduksi.

​Wanita yang mengalami haid pertama di bawah usia 12 tahun atau mengalami menopause lambat di atas usia 52 tahun memiliki risiko paparan hormon yang lebih panjang, sehingga rentan terkena kanker. Selain itu, penggunaan kontrasepsi hormonal (pil atau suntik KB) dalam jangka panjang serta kondisi tidak pernah hamil atau melahirkan juga turut meningkatkan risiko.

Upaya Peningkatan Layanan RSUD Pandega

​Untuk menekan angka keparahan, dr. Juliawan mengajak masyarakat untuk aktif melakukan SADANIS (Periksa Payudara Klinis). Pemeriksaan klinis oleh ahli medis mampu mendeteksi kanker payudara dengan akurasi hingga 85 persen.

​Sebagai komitmen pelayanan, RSUD Pandega Pangandaran saat ini sedang dalam proses menyiapkan Laboratorium Patologi Anatomi yang dilengkapi dengan Dokter Spesialis Patologi Anatomi agar proses biopsi dapat dilakukan dengan cepat. Rumah sakit ini juga menargetkan kehadiran dokter spesialis khusus tumor (onkologi) pada tahun 2026 mendatang.

​Bagi Anda yang merasakan adanya benjolan atau kelainan pada area payudara, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum terlambat.