PANGANDARAN, CEKBER.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran mulai memetakan alokasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari retribusi wisata tahun 2026. Bupati Pangandaran Citra Pitriyami menegaskan, pundi-pundi daerah tersebut akan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan infrastruktur dasar, terutama perbaikan jalan-jalan di tingkat desa.
Dalam wawancara pada Kamis 26 Maret 2026, Citra mengungkapkan, peningkatan konektivitas antarwilayah menjadi target utama pemerintahannya tahun ini. “Uang hasil PAD itu ya untuk pembangunan, terutama jalan-jalan. Target saya tahun ini kita sudah mulai membangun jalan desa, termasuk beberapa desa penghubung,” kata Citra.
Alokasi Fleksibel Sesuai Capaian
Meski ambisi membangun infrastruktur cukup besar, Citra mengakui, skala pembangunan akan sangat bergantung pada realisasi akhir PAD. Ia menyebutkan bahwa pemerintah daerah harus jeli menghitung kemampuan keuangan sebelum mengeksekusi proyek fisik.
”Nanti kita sesuaikan dengan PAD kita. Cukupnya untuk berapa kilometer (pembangunan jalan), itu yang akan kita laksanakan,” tambahnya. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang ditarik dari wisatawan melalui tiket masuk dan pajak daerah dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh penduduk lokal.
Evaluasi Operasional Shuttle Bus
Selain soal infrastruktur jalan, Citra juga menjawab pertanyaan publik mengenai penambahan armada shuttle bus wisata. Ia menjelaskan, pemerintah daerah tidak akan gegabah menambah unit secara permanen melalui pengadaan atau sewa jika tidak mendesak.
Menurutnya, operasional shuttle bus akan bersifat situasional, bergantung pada momentum libur nasional. “Untuk armada shuttle, kita sesuaikan dengan momen liburnya. Paling nanti saat Tahun Baru atau Lebaran yang kunjungannya masif. Kalau hari biasa, jumlahnya akan kita batasi agar efisien secara anggaran,” terangnya.
Dengan strategi ini, Pemkab Pangandaran berharap dapat menyeimbangkan antara kenyamanan wisatawan dan kebutuhan pembangunan bagi warga lokal, sehingga pariwisata benar-benar menjadi mesin penggerak ekonomi yang inklusif.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan