​PANGANDARAN, CEKBER.com – Di hamparan lahan yang dulunya sunyi di pelosok Jawa Barat, deru mesin pertanian dan keriuhan warga kini menjadi pemandangan karib. Polda Jawa Barat tengah melancarkan operasi yang berbeda dari biasanya: bukan perburuan kriminal, melainkan perburuan swasembada pangan melalui skema ambisius bertajuk “Keroyok Bareng Rame-Rame”.

​Hingga medio April 2026, program ini bukan sekadar isapan jempol di atas kertas laporan. Data menunjukkan realisasi penanaman jagung telah menembus angka 9.147,02 hektare. Angka ini terus merayap naik, mengejar target total potensi lahan seluas 21.008 hektare yang tersebar di berbagai titik wilayah hukum Polda Jabar.

​Kepala Biro SDM Polda Jabar, Kombes Pol Fadly Samad menyebut gerakan ini sebagai aksi kolektif yang memutus sekat birokrasi. “Kami tidak bekerja sendiri. Ini adalah gerakan massal dan akan terus diperluas karena potensi lahan masih sangat besar,” ujarnya saat meninjau lokasi di Pangandaran, Selasa pekan lalu.

​Strategi Satu Desa, Satu Hektare

​Inti dari gerakan ini adalah konsep “1 Desa 1 Hektare”. Sebuah pendekatan yang memaksa setiap jengkal tanah produktif yang terlantar untuk kembali “bernafas”. Polda Jabar memanfaatkan skema pinjam manfaat dengan menggandeng raksasa pengelola lahan seperti Perhutani dan PTPN. Hasilnya, lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif kini beralih rupa menjadi hijau oleh tegakan batang jagung.

​Namun, menanam hanyalah separuh jalan. Persoalan klasik petani yakni permodalan dan pasar dijawab dengan sinergi pembiayaan yang tak biasa. Polda Jabar merajut kerja sama yang melibatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), Primkoppol, hingga dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai mitra perusahaan.

​”Skema ini dirancang agar petani tidak tercekik modal di awal dan memiliki kepastian siapa yang akan membeli hasil panen mereka,” tambah Fadly, yang didampingi Kabagbinkar Biro SDM Polda Jabar AKBP Condro Sasongko.

​Menjaga Nafas Industri Pakan

​Keberhasilan program ini terpotret jelas pada angka serapan pasar. Sebanyak 3.700,13 ton jagung telah diamankan sebagai cadangan pangan pemerintah. Namun, “pemain” utamanya adalah industri pakan ternak yang telah menyerap sedikitnya 75.066 ton hasil panen.

​Serapan masif ke pabrik pakan ini menjadi kunci stabilitas harga di tingkat petani. Dengan rantai distribusi yang dipangkas, petani tak lagi dihantui harga anjlok saat panen raya tiba. Kolaborasi dengan industri ini menjadikan program “Keroyok Bareng” sebagai ekosistem yang mandiri dari hulu ke hilir.

​Melihat efektivitasnya di lapangan, skema dari Jawa Barat ini mulai dilirik sebagai role model atau percontohan nasional. Di tengah ancaman krisis pangan global, model kolaborasi antara kepolisian, korporasi lahan dan masyarakat desa ini menawarkan secercah harapan bagi swasembada pangan berkelanjutan di Indonesia.