Mengulas gaya kepemimpinan Bupati Pangandaran Citra Pitriyami yang humanis dan responsif. Bagaimana pendekatan “politik kehadiran” mengubah wajah pelayanan publik.

PANGANDARAN – ​Dalam lanskap politik lokal yang sering kali berjarak dan kaku, gaya kepemimpinan Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, muncul sebagai anomali yang menyegarkan. Citra tidak sedang membangun menara gading; ia justru meruntuhkan sekat-sekat birokrasi dengan pendekatan yang lebih menyerupai “politik kehadiran” ketimbang sekadar administrasi kekuasaan.

​Di Pangandaran, kita melihat sebuah pergeseran paradigma. Kepemimpinan tidak lagi dijalankan dari balik meja jati yang dingin di kantor bupati, melainkan dari teras-teras rumah warga di Desa Ciakar hingga gang-gang sempit di Cijulang.

​Humanisme yang Tak Sekadar Seremoni

​Kunjungan Citra ke rumah warga yang terdampak musibah bukan lagi soal dokumentasi kamera ponsel atau rilis pers yang kering. Ada upaya untuk “menghirup langsung” realitas sosial. Dalam teori komunikasi politik, apa yang dilakukan Citra adalah bentuk kepemimpinan organik, sebuah upaya untuk merasakan denyut nadi masyarakat tanpa perantara.

​Menariknya, rekam jejak ini bukanlah barang baru yang dipoles untuk kebutuhan elektoral. Konsistensi yang ia bawa sejak menjabat sebagai Anggota DPRD Pangandaran menunjukkan bahwa humanisme ini adalah karakter, bukan sekadar kostum jabatan. Ia memahami satu hal fundamental: warga tidak hanya butuh kebijakan, mereka butuh divalidasi keberadaannya melalui kehadiran fisik pemimpinnya.

​Digitalisasi yang Responsif, Bukan Etalase

​Satu hal yang patut digarisbawahi adalah bagaimana Citra mentransformasi media sosial menjadi kanal kanal “pengaduan rakyat” (ombudsman) mini. Di tangannya, platform digital bukan sekadar etalase narsistik pemerintah, melainkan jembatan komunikasi dua arah.

● Inklusi Generasi: Dari generasi boomers hingga Gen Z, akses informasi dibuat setara.
● Efisiensi Birokrasi: Langkah taktis seperti penyediaan hotline Dishub untuk pelaporan PJU mati adalah bukti bahwa digitalisasi di Pangandaran diarahkan pada penyelesaian masalah konkret, bukan sekadar gaya hidup digital.

​Menjadi “Ibu” bagi Pangandaran

​Istilah “Ibu” yang kini melekat pada Citra bukan sekadar sebutan gender. Dalam sosiologi politik, sosok “Ibu” merepresentasikan fungsi protektif, pengasuhan (nurturing), dan pendengar yang sabar. Di tengah lelahnya warga menghadapi tantangan ekonomi dan sosial, Citra hadir sebagai ruang aduan yang hangat.

​Namun, tantangan ke depan tentu tidak sederhana. Konsistensi adalah kunci. Kepemimpinan yang humanis harus dibarengi dengan ketegasan sistemik agar “sentuhan personal” sang bupati bisa terinstitusionalisasi ke seluruh jajaran OPD (Organisasi Perangkat Daerah).

​Citra Pitriyami telah memulai sebuah standar baru di Pangandaran: bahwa menjadi pemimpin berarti siap menjadi tempat bermuaranya keluh kesah, tanpa harus kehilangan ketangkasan dalam mencari solusi. Pangandaran hari ini tidak hanya sedang dipimpin, tapi sedang “diasuh” menuju kemajuan yang lebih manusiawi.