PANGANDARAN, CEKBER.com – Wajah sibuk menyelimuti Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Minasari, Pangandaran. Di bawah lampu temaram bangsal pelelangan, deretan keranjang berisi komoditas laut segar berjejer menanti ketukan palu pelelang.
Musim timur yang tengah berlangsung membawa berkah tersendiri: ikan dan udang meruyak di perairan, membuat perahu-perahu nelayan pulang dengan muatan penuh.
Namun, hukum besi ekonomi (supply and demand) kembali menunjukkan taringnya. Kelimpahan tangkapan ini justru memicu kecemasan baru di tingkat bawah. Ketika volume tangkapan melonjak drastis, harga jual di pasar lokal perlahan merosot tajam.
Ketua KUD Minasari Pangandaran, Jeje Wiradinata mengungkapkan, pergerakan ekonomi di pelelangan selama sepekan terakhir melonjak signifikan. Nilai transaksi harian di dua TPI yang dikelola KUD bahkan bisa menembus angka Rp300 juta per hari.
”Seminggu terakhir ini ikan mulai keluar. Malam udang tangkapan lokal, siang juga ada ikan. Kalau ditotal dengan yang di luar, bisa ada Rp300 juta sehari transaksi di dua TPI, malam dan siang,” ujar Jeje saat memantau langsung situasi pelelangan, Senin 13 Juli 2026.
Meski demikian, Jeje mencatat adanya disparitas harga yang mencolok antar komoditas. Untuk jenis udang kelas ekspor seperti udang tiger (pancet), nelayan boleh bernapas lega. Harganya relatif stabil tinggi, berkisar antara Rp230 ribu hingga Rp380 ribu per kilogram tergantung ukuran. Tantangan nyata justru ada pada udang pasar lokal seperti udang Dogol.
Menurut Jeje, ketika volume udang pasar lokal mendekati angka satu hingga dua ton per hari, harga langsung merosot ke titik terendah sekitar Rp75 ribu per kilogram.
”Persoalannya, kalau udang tiger itu kan ekspor, berapa banyak pun kita tidak khawatir karena harganya tetap tinggi. Nah, yang kita khawatirkan adalah produk ikan atau udang hasil tangkap untuk pasar lokal. Hukum ekonomi berlaku di sini. Permintaan pasar lokal terbatas, jadi kalau barangnya terlalu banyak, pasti harganya jatuh,” terang Jeje.
Sebagai ketua KUD, Jeje kini harus intens berkomunikasi dengan para tengkulak dan pabrik guna menjaga stabilitas harga agar tidak jatuh di bawah standar kelayakan. “Kita harus pintar-pintar berkomunikasi dengan pembeli, terutama di luar akhir pekan (weekday). Kalau Sabtu-Minggu serapan pasar lokal ke restoran masih bagus,” jelasnya.
Jeritan Nelayan di Tengah Mahalnya Biaya Melaut
Di sudut lain pelelangan, Dodi Rawan, salah seorang nelayan lokal, mengamini fluktuasi harga tersebut. Baginya, peningkatan hasil tangkapan dalam dua hingga tiga hari terakhir bak pisau bermata dua. Di satu sisi ia bersyukur bisa membawa lebih banyak udang, namun di sisi lain kantongnya menjerit karena harga udang lokal yang mentok di angka murah.
”Sekarang harga udang lokal mentok di Rp75 ribu (per kilogram), enggak mau naik lagi. Padahal kalau lagi sepi, harganya bisa Rp100 ribu sampai Rp130 ribu,” keluh Dodi.
Bagi Dodi dan rekan-rekannya, penurunan harga ini terasa kian mencekik karena tidak dibarengi dengan penurunan biaya operasional. Di musim timur yang penuh riak gelombang ini, nelayan harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan melaut yang seluruhnya serba mahal.
”Harapannya nelayan ya ada perhatian (harga). Sekarang segala mahal. Rokok mahal, oli mahal, dan yang paling susah itu beli BBM solar untuk nelayan, belinya susah lagi,” ketus Dodi sambil membenahi topi pet hitamnya.
Kini, di tengah limpahan berkah laut Samudra Hindia, para nelayan Pangandaran hanya bisa berharap intervensi KUD Minasari dan pemerintah daerah mampu menahan laju kejatuhan harga, agar keringat yang mereka kucurkan di tengah lautan malam tidak menguap sia-sia menjadi angka-angka murah di daratan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan