PANGANDARAN, CEKBER.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran mulai mengambil langkah agresif untuk mengatasi ancaman ekologis di wilayah pesisirnya. Bupati Pangandaran mendesak percepatan proses wreck removal atau penyingkiran kerangka Kapal Tongkang Nautica 22 yang kandas. Langkah ini diprioritaskan pada evakuasi muatan batu bara guna mencegah kerusakan ekosistem laut yang lebih masif.
Rencana taktis tersebut dimatangkan dalam rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar di Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Pangandaran, pada Kamis 9 Juli 2026.
Rapat krusial ini dihadiri oleh Ketua DPRD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI AL, Polairud, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), serta perwakilan PT Lion Marine selaku pihak yang bertanggung jawab atas penanganan kerangka kapal.
Berpacu dengan Cuaca Buruk dan Ancaman Ekologi
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami menegaskan, pembersihan tumpahan batu bara dan suplai logistik bawah air (underwater supply) menjadi harga mati yang harus segera dieksekusi. Kendati demikian, ia mengingatkan tim teknis di lapangan untuk tidak mengabaikan faktor keselamatan kerja, mengingat kondisi cuaca dan gelombang laut di perairan Pangandaran saat ini sedang tidak bersahabat.
”Pembersihan batu bara itu menjadi permasalahan yang lebih penting saat ini, termasuk suplai bawah air. Itu harus segera dilakukan. Tetapi, kami juga memohon tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, karena memang kondisi perairan sekarang kurang baik,” ujar Citra seusai rapat koordinasi.
Faktor cuaca buruk diprediksi akan menjadi tantangan utama bagi PT Lion Marine dan tim gabungan. Gelombang tinggi di pesisir selatan Jawa berpotensi menghambat proses penyelaman maupun pengoperasian alat berat di lokasi kandasnya Tongkang Nautica 22.
Minta Rencana Aksi Konkret dan Transparansi Publik
Evakuasi material batu bara dari lambung tongkang diakui bukan perkara mudah. Proses ini membutuhkan peralatan penyelaman khusus, crane barge (kapal derek), serta perhitungan teknis yang presisi. Langkah hati-hati ini diperlukan agar material batuan tidak makin mencemari perairan yang menjadi wilayah tangkap utama nelayan lokal.
”Catatan saya satu: bagaimana batu bara ini bisa terangkat. Saya tahu proses itu tidak mudah dan alat-alat yang dibutuhkan memerlukan waktu. Tapi saya mohon agar secepatnya masalah ini selesai. Kondisi masyarakat dan lingkungan yang terdampak insiden ini mohon diperhatikan,” tuturnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Pangandaran menginstruksikan pihak perusahaan dan otoritas pelabuhan untuk segera menyusun action plan (rencana aksi) yang terukur dalam hitungan hari.
Jadwal berkala ini wajib dikoordinasikan dengan Pemkab agar perkembangan evakuasi bisa dipantau secara transparan, sekaligus memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat Pangandaran, khususnya komunitas nelayan tradisional.
Sampai berita ini diturunkan, tim teknis dilaporkan masih memetakan titik aman untuk menyandarkan armada alat berat di sekitar lokasi karamnya kapal guna memulai operasi pengangkatan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan