PANGANDARAN, CEKBER.com – Di bawah teduhnya pepohonan Desa Karangbenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Ida Nurlaela Wiradinata duduk melingkar bersama puluhan petani. Tidak ada sekat formal. Dalam suasana “sambung rasa” tersebut, isu kedaulatan pangan menjadi topik utama yang mengemuka.
Bagi Ida, petani adalah ujung tombak swasembada pangan nasional yang kerap kali terjepit oleh tuntutan ekonomi. Ia menyoroti fenomena yang belakangan kian marak: alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi bangunan komersial atau hunian.
”Petani kita adalah garda terdepan. Karena itu, jangan sampai lahan mereka beralih fungsi. Pertahankan lahan untuk tetap menjadi lumbung pangan,” ujar Ida di sela-sela dialognya, Sabtu 2 Mei 2026.
Ida menyadari, seruan untuk mempertahankan lahan tidaklah cukup tanpa dukungan nyata. Dalam paparannya, ia menekankan perlunya intervensi kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan petani.
Menurutnya, produktivitas pertanian di Pangandaran memiliki potensi besar, namun masih terhambat oleh keterbatasan sarana dan prasarana.
Dalam pertemuan tersebut, isu irigasi menjadi sorotan utama. Banyak petani mengeluhkan sistem pengairan yang belum optimal, yang secara langsung berdampak pada kualitas panen.
Selain itu, Ida juga menekankan pentingnya adopsi teknologi tepat guna. Bantuan sarana pendukung, seperti traktor, menjadi simbol dukungan konkret agar para petani bisa bekerja lebih efisien.
”Kita tidak bisa hanya meminta petani untuk produktif tanpa memberikan fasilitas yang memadai. Mulai dari sistem irigasi, bantuan teknologi, hingga pendampingan berkelanjutan harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Dialog ini bukan sekadar ajang serap aspirasi, melainkan upaya memetakan kebutuhan mendesak di lapangan. Dengan sinergi antara pemerintah dan petani, Ida optimistis kesejahteraan petani di Pangandaran bisa meningkat, sekaligus menjamin stabilitas produksi beras daerah yang berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan