BERITA ​PANGANDARAN – Nama “Pangbagea” semestinya membawa janji kebahagiaan dan sambutan hangat. Namun, di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, nama itu kini terdengar seperti ironi. Alun-alun Pangbagea, ruang publik yang diresmikan dengan sorak-sorai pada 2022, kini senyap. Ditinggalkan.

​Kawasan yang digadang-gadang menjadi ikon baru Kabupaten Pangandaran itu tak lagi berdenyut. Tak ada tawa anak-anak, tak ada riuh transaksi pedagang.

​Deretan kios dan gerobak UMKM yang berjajar di sana kini hanya menjadi monumen bisu. Berdebu, terbengkalai, dan tak lagi difungsikan.

​Jejak Megah Warisan Ridwan Kamil

​Alun-alun ini bukan proyek “kaleng-kaleng”. Pembangunannya menyedot anggaran Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Barat tahun 2021 sebesar Rp 18 miliar.

​Diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat kala itu, Ridwan Kamil, fasilitas ini dibangun lengkap:

  • ​Lapangan upacara
  • ​Arena jogging
  • ​Taman bermain
  • ​Pusat kreatif (Creative Center)
  • ​Area hijau dan parkir luas
  • ​Sentra UMKM dan Foodcourt

​Namun, kemegahan fasilitas itu tak sejalan dengan nasibnya. Pantauan di lokasi pada Rabu 21 Januari 2026, memperlihatkan area foodcourt dan gerobak UMKM yang melompong tanpa aktivitas. Sesekali, satu dua pengunjung datang, namun sunyi kembali menyergap.

​Pedagang Angkat Kaki

​Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Pangandaran Tedi Garnida tak menampik kondisi tersebut. Menurutnya, aktivitas ekonomi di sana sudah bubar sejak lama. Alasannya klasik: sepi pembeli.

​”Ya karena sepi, akhirnya tidak ada lagi yang dagang di sana,” ujar Tedi.

​Nasib gerobak-gerobak UMKM itu pun berakhir ironis. Bantuan senilai kurang lebih Rp 70 juta hasil inisiatif dinas dengan salah satu bank daerah, kini telah dipindahtangan. Karena tak terpakai di alun-alun, aset itu diserahkan ke pemerintah desa.

​”Diserahkan ke Kuwu (Kepala Desa Cintakarya) agar dimanfaatkan oleh masyarakat di sana. Kalau tidak salah penyerahannya sekitar satu tahun yang lalu,” kata Tedi.

​Ia mengakui, pemanfaatan gerobak bisa saja berlanjut, tetapi memaksa pedagang bertahan di Alun-alun Pangbagea yang sepi pengunjung adalah hal mustahil.

​Salah Lokasi?

​Mengapa proyek belasan miliar ini ditinggalkan warga? Hikmat (60), seorang warga Kecamatan Pangandaran, punya jawaban sederhana. Menurutnya, lokasi Alun-alun Pangbagea “nanggung”.

​Meski berdekatan dengan pusat pemerintahan (Kantor Bupati), kawasan itu jauh dari keramaian alami warga. ​”Walaupun lokasinya dekat Kantor Bupati, tapi kan jauh dari keramaian. Warga juga jarang main ke sana,” tutur Hikmat.

​Ia juga menyoroti kondisi alun-alun yang kini mulai terlihat kumuh. “Kalau pun ada yang datang, ya hanya satu dua orang,” ucapnya menutup pembicaraan.

​Kini, Alun-alun Pangbagea berdiri kesepian. Sebuah proyek ambisius yang gagal membawa “pangbagea” atau kebahagiaan bagi warganya.