PANGANDARAN, CEKBER.com – Berdiri di depan layar yang menampilkan visual gedung medis modern, Jeje Wiradinata tampil dengan jaket merah khasnya. Namun, kali ini ia tidak sedang bicara soal kontestasi politik.
Ketua DPC PDI Perjuangan yang juga Bupati Pangandaran periode 2016-2024 ini tengah melakukan kilas balik emosional pada peringatan Hari Jadi ke-6 RSUD Pandega.
Dalam pesannya, Jeje mengenang kondisi memprihatinkan sektor kesehatan Pangandaran saat ia pertama kali menjabat. Ia menggambarkan betapa kontrasnya fasilitas kesehatan dahulu dengan kemegahan yang ada saat ini.
”Saya ingat betul awal jadi Bupati, yang saya pikirkan adalah kesehatan. Kita tidak punya rumah sakit, Puskesmas kita asal ada, ruangannya bau pesing dan dokter kita hanya 10-19 orang,” kenang Jeje.
Pertaruhan Rp266 Miliar dan Badai Pandemi
Keputusan membangun RSUD Pandega disebutnya sebagai sebuah “kenekatan” yang terukur. Dengan segala keterbatasan anggaran, Jeje mengaku hanya bermodal keyakinan Bismillah untuk menggelontorkan dana sebesar Rp266 miliar demi berdirinya rumah sakit tersebut.
Namun, tantangan tidak berhenti pada fisik bangunan. Titik krusial kedua adalah ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Jeje menegaskan bahwa gedung semegah Pandega tidak akan berarti tanpa dokter spesialis.
”Tidak mungkin rumah sakit sekeren ini diisi dokter umum saja. Saya tugaskan Direktur cari dokter spesialis inti; penyakit dalam, kandungan dan lainnya. Saya penuhi apa yang mereka minta (TPP) agar rumah sakit ini berjalan,” tegasnya.
Ujian Nyawa di Tengah Covid-19
Momen paling dramatis dalam sejarah 6 tahun RSUD Pandega terjadi pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 menghantam. RSUD yang baru seumur jagung itu langsung diuji oleh krisis global. Jeje sendiri sempat menjadi pasien di rumah sakit yang ia bangun tersebut.
Ia menceritakan saat kondisinya memburuk dan hampir dirujuk ke Bandung demi perawatan lebih baik. Namun, ia memilih bertahan di RSUD Pandega sebagai bentuk kepercayaan seorang pemimpin terhadap fasilitas daerahnya sendiri.
”Kalau Bupati saja tidak percaya pada RSUD Pandega saat bencana, maka kepercayaan masyarakat akan pudar. Apapun yang terjadi, hidup atau mati, saya tetap ingin dirawat di Pandega,” ungkapnya haru.
Pesan untuk Masa Depan: Autokritik dan Kekompakan
Menutup pesannya, Jeje meminta seluruh keluarga besar RSUD Pandega, mulai dari direktur hingga tenaga medis, untuk terus melakukan autokritik. Ia menekankan bahwa ulang tahun bukan sekadar pesta, melainkan momen bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku sudah bekerja dengan baik?”
”Modal utamanya cuma satu: kekompakan yang harus dibangun di keluarga besar RSUD Pandega. Maju terus, melesat!” pungkas Jeje.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan