DI BALIK megahnya wajah baru Pantai Pangandaran yang kini berderet hotel berbintang dan pedestrian lebar, tersimpan sebuah ironi yang menyesakkan dada di pusat pemerintahan Parigi. Citra Pitriyami, Bupati Pangandaran yang baru menjabat, mewarisi kursi panas yang lebih mirip bara api ketimbang singgasana.

​Ia tidak hanya menerima tongkat estafet kepemimpinan dari Jeje Wiradinata, sang mentor sekaligus pendahulunya. Ia juga menerima “warisan” lain yang tak kasat mata namun mencekik: defisit anggaran, tunjangan pegawai yang tersendat, dan ekspektasi publik yang kadung melambung tinggi.

​Di bawah bayang-bayang nama besar Jeje, Citra kini berdiri di persimpangan jalan yang terjal. Apakah ia hanya akan menjadi penjaga monumen keberhasilan pendahulunya, atau mampu membuktikan diri sebagai nakhoda yang bisa menyelamatkan kapal yang sedang oleng?

Gebrakan Spektakuler Jeje Wiradinata

​Tidak ada yang bisa menafikan peran Jeje Wiradinata dalam satu dekade terakhir. Ia adalah arsitek modernisasi Pangandaran. Di tangannya, daerah otonomi baru (DOB) yang dulunya semrawut disulap menjadi destinasi wisata kelas wahid di Jawa Barat.

Jalan-jalan mulus hingga ke pelosok desa, penataan pantai barat dan timur yang rapi, hingga pembangunan RSUD Pandega dan Piamari Aquarium adalah bukti fisik dari ambisinya.

​Jeje memimpin dengan gaya “dobrak”. Ia berani mengambil risiko besar, memindahkan pedagang kaki lima, dan menggelontorkan anggaran jumbo untuk infrastruktur. Bagi masyarakat awam, Jeje adalah bapak pembangunan. Namanya harum sebagai pemimpin yang visioner.

​Namun, pembangunan fisik yang masif sering kali menyisakan lubang di neraca keuangan. Ambisi untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur yang sering kali dibiayai lewat skema utang atau proyeksi pendapatan asli daerah (PAD) yang optimis, kini menjadi bumerang. Jeje pergi dengan meninggalkan legacy fisik yang mentereng, tetapi juga meninggalkan pekerjaan rumah fiskal yang rumit.

​Inilah “bayang-bayang” itu. Jeje tidak hanya meninggalkan standar kinerja yang tinggi, tetapi juga beban struktural yang harus ditanggung oleh penerusnya.

​Ujian Realitas Citra Pitriyami

​Citra Pitriyami naik ke tampuk kekuasaan bukan sebagai orang asing. Sebagai politikus PDI Perjuangan dan mantan anggota legislatif, ia ada di lingkaran dalam kekuasaan selama era Jeje. Ia adalah bagian dari status quo. Kemenangannya dalam Pilkada yang juga didukung penuh oleh mesin politik Jeje membawa narasi “keberlanjutan”.

​Namun, realitas politik pasca-pelantikan sering kali brutal. Bulan madu kepemimpinan Citra langsung dihantam oleh krisis likuiditas daerah. Berita tentang dirinya yang menitikkan air mata saat membahas kondisi fiskal daerah dengan tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjadi viral. Tangisan itu bukan sekadar ekspresi emosional perempuan pemimpin, melainkan sinyal bahaya (SOS) dari kas daerah.

​Publik terhenyak. Bagaimana mungkin daerah dengan pariwisata yang begitu gemerlap bisa kesulitan membayar hak pegawainya?

​Di sinilah ujian kepemimpinan Citra dimulai. Ia harus memimpin di masa sulit (krisis), berbeda dengan Jeje yang memimpin di masa ekspansi (pembangunan). Jika Jeje adalah “Bupati Pembangunan”, maka takdir memaksa Citra menjadi “Bupati Penyehatan”.

Peran kedua ini jauh tidak populer. Tidak ada gunting pita, tidak ada groundbreaking proyek raksasa. Yang ada hanyalah efisiensi, rasionalisasi anggaran, dan mungkin, kebijakan-kebijakan pahit yang tidak populis.

​Jebakan Politik Simbolik

​Tantangan terbesar Citra bukan hanya soal uang, tapi soal persepsi. Sebagai pemimpin perempuan pertama di Pangandaran dan penerus dari figur yang sangat dominan, ia rentan terjebak dalam stigma “pemimpin boneka” atau sekadar “pelanjut titah”.

​Publik akan selalu membandingkannya dengan Jeje. Jika Citra lambat mengambil keputusan, ia akan dianggap lemah. Jika ia terlalu agresif memotong anggaran proyek warisan lama demi efisiensi, ia bisa dituduh tidak loyal pada pendahulunya. Ini adalah posisi yang dilematis.

​Citra harus berani keluar dari bayang-bayang Jeje. Hormat pada senior adalah etika politik, tetapi kemandirian dalam mengambil kebijakan adalah kewajiban konstitusional. Ia perlu menunjukkan bahwa dirinya memiliki visi sendiri, bukan sekadar fotokopi dari visi Jeje.

​Gaya kepemimpinan yang keibuan, empatik, dan komunikatif, seperti yang sering ditonjolkannya bisa menjadi antitesis yang menyegarkan dari gaya maskulin dan top-down ala Jeje. Namun, empati saja tidak cukup membayar utang daerah. Citra butuh teknokrasi yang kuat. Ia butuh tim ekonomi yang berani membedah APBD, memangkas belanja seremonial yang tidak perlu, dan menggenjot PAD dari sektor pariwisata yang bocor.

​Pariwisata: Antara Potensi dan Kebocoran

​Sektor pariwisata adalah kunci. Jeje sudah membangun panggungnya, kini tugas Citra adalah memastikan tiket pertunjukannya terjual habis dan uangnya masuk ke kas daerah, bukan ke kantong oknum.

​Isu kebocoran retribusi wisata di pintu masuk Pangandaran adalah rahasia umum yang sudah jadi buah bibir bertahun-tahun. Jika Citra ingin membuktikan ia berbeda dan lebih baik dari pendahulunya, ia harus berani menyentuh area sensitif ini.

Digitalisasi total sistem tiket dan penegakan hukum yang tegas terhadap kebocoran PAD akan menjadi pembuktian nyalinya. ​Jika ia berhasil menambal kebocoran ini, ia tidak hanya akan menyelamatkan APBD, tetapi juga membangun legitimasinya sendiri. Ia akan dikenal sebagai bupati yang “membersihkan” dan “memprofesionalkan” pengelolaan wisata Pangandaran.

​Menolak Menjadi Bayangan

​Kepemimpinan Bupati Citra Pitriyami baru seumur jagung. Masih terlalu dini untuk memvonis gagal atau sukses. Namun, arah angin sudah terlihat. Badai fiskal ini adalah blessing in disguise (berkah terselubung) bagi Citra.

​Krisis ini memberinya panggung untuk menunjukkan karakter aslinya. Jika ia mampu membawa Pangandaran keluar dari lubang defisit tanpa mengorbankan pelayanan publik, ia akan dikenang lebih dari sekadar “penerus Jeje”. Ia akan dikenang sebagai penyelamat.

​Sebaliknya, jika ia larut dalam keluhan dan terus-menerus berlindung di balik narasi “warisan masalah”, kepemimpinannya akan habis dimakan waktu tanpa meninggalkan jejak berarti. Air mata di pendopo boleh jatuh, itu manusiawi. Tapi setelah air mata diseka, rakyat Pangandaran butuh tangan besi dalam sarung sutra untuk membereskan kekacauan ini.

​Jeje Wiradinata adalah masa lalu yang monumental. Citra Pitriyami adalah masa kini yang penuh tantangan. Sudah saatnya Citra berhenti menengok ke belakang dan mulai menulis sejarahnya sendiri. Pangandaran tidak butuh Jeje Jilid II. Pangandaran butuh Citra Pitriyami yang otentik, berani, dan solutif.