PANGANDARAN, CEKBER.com – Populasi lobster di perairan laut Pangandaran, Jawa Barat, dilaporkan berada di titik kritis. Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari, Jeje Wiradinata, menyebut komoditas unggulan pesisir selatan ini sedang berada di ambang kepunahan akibat eksploitasi yang tidak terkendali.
Mantan Bupati Pangandaran yang kini kembali fokus memimpin KUD Minasari ini menyatakan, kekhawatiran yang ia prediksi dua tahun lalu kini menjadi kenyataan pahit bagi para nelayan.
”Dua tahun lalu saya sudah memprediksi populasi lobster di Pangandaran akan punah. Sekarang, setelah berkonsentrasi kembali di KUD Minasari dan melihat data lapangan, saya makin yakin kondisinya nyaris punah,” kata Jeje saat ditemui pada Rabu, 18 Februari 2026.
Siklus Reproduksi Terputus akibat Benih Dikuras
Jeje mengidentifikasi tiga faktor utama yang mempercepat hilangnya lobster dari perairan Pangandaran. Masalah utama yang paling disorot adalah maraknya perburuan benih bening lobster (BBL).
Menurut Jeje, aktivitas penangkapan benih oleh oknum nelayan dan pengepul ilegal telah memutus siklus reproduksi alami. “Lobster belum sempat tumbuh dewasa dan berkembang biak, tapi sudah diambil. Ini menghancurkan regenerasi stok di alam,” ujarnya.
Selain itu, Jeje menyoroti dua poin krusial lainnya:
Praktik Tangkap Tak Ramah Lingkungan: Penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai aturan merusak habitat dan mengancam keberlanjutan sumber daya laut.
Tekanan Pasar Global: Tingginya permintaan baby lobster untuk pasar lokal maupun ekspor memicu eksploitasi berlebihan yang menguras populasi dewasa.
Nelayan Hanya Dapat Lobster Ukuran Kecil
Dampak dari kerusakan ekosistem ini sudah dirasakan langsung oleh nelayan lokal. Jeje menyebutkan bahwa saat ini sangat jarang nelayan yang berhasil mendaratkan lobster dengan ukuran layak konsumsi.
”Sudah jarang nelayan mendapat lobster. Kalaupun dapat, ukurannya sangat kecil. Ini bukti nyata bahwa lobster tidak diberi kesempatan untuk tumbuh besar,” tutur Jeje dengan nada getir.
Hilangnya lobster dari perairan tradisional Pangandaran bukan hanya menjadi pukulan bagi sektor ekonomi dan pendapatan nelayan, tetapi juga menjadi alarm bagi keseimbangan ekosistem laut Jawa Barat Selatan.
Desakan Solusi bagi Pemangku Kepentingan
Kondisi lobster Pangandaran yang kini “menghilang” dari perairan menjadi sinyal kuat adanya ketidakseimbangan ekologi.
Jeje menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperketat pengawasan dan menegakkan regulasi penangkapan.
Tanpa intervensi serius, komoditas yang dahulu menjadi primadona ekspor Pangandaran ini diprediksi hanya akan tinggal kenangan dalam waktu dekat.





