PANGANDARAN, CEKBER.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran kembali menggelar program MAPAY Pandega (Manajemen Sapa Pasien Pandega) pada Kamis 05 November 2026. Bertempat di ruang tunggu rumah sakit, acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus edukasi kesehatan bagi para pasien dan keluarga pendamping.

​Kegiatan ini dipandu langsung oleh Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Pandega Pangandaran, dr. Indah Adhiarini Sukma, yang turut membagikan sejumlah cenderamata kepada pasien yang aktif bertanya. Fokus utama MAPAY Pandega kali ini adalah memperkenalkan layanan baru, yakni Poli THT, sekaligus memberikan edukasi kesehatan telinga.

​Kado HUT Pangandaran dan Target Layanan 2027

​Dalam sambutannya, dr. Indah menyampaikan bahwa kehadiran Poli Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-BKL) merupakan kado spesial untuk hari jadi Kabupaten Pangandaran yang ke-14, yang resmi dibuka pada 24 Oktober lalu. Kehadiran poli ini menjawab tingginya kebutuhan masyarakat Pangandaran yang sebelumnya harus dirujuk ke luar kota untuk penanganan kasus THT.

​Tidak berhenti di situ, manajemen RSUD Pandega juga membocorkan rencana penambahan sejumlah layanan vital di tahun 2027 hingga 2030. Beberapa fasilitas yang sedang dipersiapkan antara lain:

​Poli Onkologi: Ditargetkan hadir pada 2027 untuk penanganan pasien kanker dan kemoterapi.

​Rehabilitasi Medik: Layanan dokter spesialis rehab medik (fisioterapi) juga ditargetkan beroperasi tahun depan.

​Fasilitas Cath Lab: Layanan operasi pemasangan ring jantung diproyeksikan mulai tersedia di 2027.

​Poli Urologi: Direncanakan mulai melayani masyarakat pada tahun 2030, mengingat tingginya kasus urologi di Pangandaran.

Bahaya Mengorek Telinga Pakai Cotton Bud

​Sesi edukasi utama diisi oleh dr. Ardian Pratama Saputra, Sp.T.H.T.B.K.L, dokter spesialis THT baru di RSUD Pandega. Dokter yang telah bertugas di Puskesmas Pangandaran sejak 2017 ini menyoroti kebiasaan buruk masyarakat yang kerap membersihkan telinga menggunakan cotton bud, peniti, hingga kunci motor.

​Menurut dr. Ardian, kotoran telinga (serumen) yang merupakan campuran minyak dan sel kulit mati, sebenarnya memiliki tiga fungsi ajaib secara alami:

​Perisai Alami: Sifatnya yang lengket berfungsi menahan debu dan kotoran dari luar agar tidak masuk ke dalam telinga.

​Pelembap Otomatis: Membantu melembapkan udara kering atau dingin yang masuk, sehingga telinga tidak terasa pusing.

​Cairan Anti-kuman: Berfungsi sebagai antiseptik yang menangkap jamur, bakteri, dan virus.

Telinga manusia sejatinya sudah memiliki sistem pembersih otomatis melalui bulu-bulu halus dan gerakan rahang saat mengunyah yang akan mendorong kotoran keluar dengan sendirinya.

​”Kalau dibersihkan pakai cotton bud, apalagi yang ukurannya sebesar lubang telinga, kotorannya justru makin terdorong ke dalam. Selain itu, kulit telinga bagian dalam itu sangat tipis dan langsung berbatasan dengan tulang, sehingga rawan lecet, meradang, hingga berisiko merobek gendang telinga,” tegas dr. Ardian.

Hati-hati Beli Obat Tetes Telinga Sembarangan

​Selain larangan penggunaan cotton bud, dr. Ardian juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membeli obat tetes telinga di pasaran tanpa anjuran medis. Penggunaan obat tetes yang tidak tepat, apalagi jika kondisi gendang telinga pasien ternyata sudah berlubang, justru sangat membahayakan dan berisiko menimbulkan infeksi yang lebih parah.

​Bagi masyarakat yang merasa telinganya gatal, penuh, atau mengalami penurunan pendengaran, dr. Ardian menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke Poli THT RSUD Pandega. Pemeriksaan rutin disarankan setiap 2 hingga 4 bulan sekali agar kesehatan telinga tetap terjaga secara optimal.