​PANGANDARAN, CEKBER.com – Angin pesisir berembus sedang ketika ratusan pasang mata anak-anak berseragam putih-merah dan putih-biru tertuju pada sebuah panggung semi-permanen bernuansa kuning-putih di bibir pantai Pangandaran. Hari itu, mereka tidak sedang berhadapan dengan papan tulis kelas, melainkan bersiap melarung imajinasi dalam perlombaan menyambut tradisi tahunan masyarakat pesisir: Hajat Laut 2026.

​Namun, ritual pesisir yang digelar bertepatan dengan momentum menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah ini menyimpan cerita lain. Di balik kemasannya yang penuh selebrasi, ada misi penyelamatan lingkungan dan budaya yang sedang disuntikkan secara masif kepada generasi pemegang masa depan Pangandaran.

CEKBER.com memantau langsung jalannya acara serta merekam komitmen dari dua tokoh sentral di sela-sela keriuhan: Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Kabupaten Pangandaran sekaligus Koordinator Panitia Hajat Laut, Jeje Wiradinata, serta mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Dari balik panggung pesisir, sebuah potret kontras dan komitmen ekologis terekam utuh.

​Strategi Kebudayaan dari Bibir Pantai

​Mengenakan topi jingga, celana jins, dan kaus putih bertuliskan “Hajat Laut”, Jeje Wiradinata berjalan perlahan mendekati barisan siswa sembari menggenggam mikrofon. Bagi Jeje, Hajat Laut edisi kali ini harus melompat dari sekadar ritual komunal menjadi ruang investasi emosional bagi generasi muda.

​”Hari ini lombanya banyak, ada 16 cabang lomba. Ada melukis, mengarang, lomba pupuh, tilawatil qur’an, hingga pidato,” ujar Jeje saat memberikan sambutan hangat di hadapan para siswa.

​Jeje tidak menampik bahwa pelibatan anak-anak secara masif ini merupakan bentuk ikhtiar untuk merawat ruang hidup mereka. Lomba melukis dan mengarang, misalnya, sengaja diarahkan pada tema keindahan alam pesisir. Anak-anak ditantang untuk menuangkan keindahan laut yang bersih, gunung, dan perahu nelayan dari sudut pandang mereka. Sementara lomba pupuh digelar agar anak-anak tidak tercerabut dari akar kebudayaan tradisi Sunda.

​”Menulis dan menggambar itu adalah melatih kecintaan anak-anak sekalian pada alam. Mengekspresikan bagaimana alam itu indah dan bagus. Itu melatih anak-anak agar cinta terhadap Pangandaran,” tutur Jeje dengan vokal yang tegas.

​Bagi panitia, taruhannya adalah regenerasi kepemimpinan 20 tahun ke depan. Tanpa adanya sense of belonging atau rasa memiliki yang dipupuk sejak dini, tata kelola lingkungan dan pariwisata Pangandaran dikhawatirkan akan rapuh di masa depan.

​Namun, menggerakkan ratusan anak-anak tentu membutuhkan stimulan yang tidak sedikit. Di sinilah peran Susi Pudjiastuti masuk. Pengusaha maskapai penerbangan sekaligus tokoh ikonik setempat itu dilaporkan menggelontorkan dana segar hingga ratusan juta rupiah untuk menyokong hadiah perlombaan.

​”Hadiahnya semuanya dari siapa? Dari Ibu Susi, Rp122 juta,” kata Jeje yang langsung disambut riuh tepuk tangan para siswa. Sembari berseloroh dengan nada kelakar khas pesisir, ia menambahkan, “Pokoknya kalau pangkalan Ibu Susi, beres! Beres enggak? Tenggelamkan!” serunya, meminjam jargon populer sang mantan menteri yang juga merupakan kakak kelasnya saat sekolah dulu.

​Ultimatum Konservasi dan Suntikan Kreativitas

​Gayung bersambut, pesan senada juga disampaikan langsung oleh Susi Pudjiastuti saat berdiri memberikan pidato di tepi pantai. Menggunakan rompi hitam, kemeja putih, topi putih, dan kacamata hitam, penampilannya tetap lugas tanpa basa-basi.

​Susi menegaskan, esensi Hajat Laut harus dibersihkan dari sekadar pemaknaan pesta pora hedonistik. ​”Bukan cuma pesta mensyukuri hasil panen para nelayan sepanjang tahun dan tabur bunga untuk para pahlawan kita, tapi Ibu ingin untuk membangunkan kembali kreativitas adik-adik semua, anak-anak Pangandaran, supaya cinta sama kampung halamannya,” tutur Susi dengan mikrofon di tangan.

​Susi berkisah, sejauh apa pun dirinya melangkah, tak ada tempat yang membuatnya betah selain pesisir Pangandaran. “Ibu sudah ke mana-mana, tapi tetap wae balik mah imah di Pangandaran. Dan Pangandaran teh betah. Urang kudu nyaah, urang kudu bungah boga pantai siga Pangandaran (Kita harus sayang, kita harus gembira punya pantai seperti Pangandaran),” ucapnya menyelipkan kelakar berbahasa Sunda.

​Agar kompetisi berjalan kompetitif, Susi merinci besaran stimulus finansial yang disiapkannya bersama panitia. Untuk kategori anak sekolah, Juara I mendapatkan Rp2 juta, Juara II Rp1,5 juta, Juara III Rp1 juta, dan Juara IV sebesar Rp500 ribu. Angka yang menurutnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pakaian dan mainan anak pesisir selama satu tahun. Tidak hanya untuk anak sekolah, rangkaian acara juga merangkul ibu-ibu nelayan melalui lomba hias tumpeng, voli, hingga lomba berkebaya.

​Namun, Susi memberikan catatan tebal. Uang hadiah puluhan juta itu menuntut komitmen ekologis yang nyata di lapangan. Ia melayangkan kritik keras terhadap tata ruang dan masalah kebersihan pesisir yang dinilainya harus terus diperbaiki.

​”Pantainya harus cantik, harus bersih, harus ramai sama pengunjung. Bukan kumuh, kotor, banyak sampah, gitu kan? Kudu ditata, ulah sareukseuk (jangan semrawut) mun ceuk urang mah,” cecar Susi.

​Secara spesifik, ia menyoroti penataan wilayah pantai tempat berenang yang mulai terganggu akibat kepadatan perahu nelayan yang parkir, serta keberadaan bagang dan keramba yang kurang tertata. Susi memandang jika kesemrawutan ini dibiarkan, kawasan wisata andalan ini akan kehilangan daya tawar estetisnya.

​Di penghujung pidatonya, Susi melempar janji kebudayaan yang ambisius. Ia menyatakan siap menanggung penuh ongkos akomodasi bagi anak-anak atau atlet Pangandaran yang mampu menembus prestasi tingkat nasional hingga internasional.

​”Ayo bangkitkan kreativitas! Lamun aya atlet atau siswa berprestasi Pangandaran rek ka mana, Ibu anu rek ngongkosan (Kalau ada atlet atau siswa berprestasi Pangandaran mau ke mana, Ibu yang mau mengongkosi). Sampai ke Tiongkok sana, harus!” tantang Susi sembari melirik ke arah Jeje Wiradinata.

“Lamun Ibu keur euweuh duit, rek menta ka Pak Jeje, dipalak ku Ibu (Kalau Ibu sedang tidak ada uang, mau minta ke Pak Jeje, dipalak sama Ibu),” kelakarnya yang disambut tawa riuh para hadirin.

​Di bawah langit pesisir Pangandaran, Hajat Laut tahun ini tidak lagi sekadar tentang melarung syukur ke tengah lautan. Ia telah bertransformasi menjadi panggung pembagian modal sosial, tempat di mana tokoh nelayan dan mantan menteri bersekutu untuk memastikan bahwa laut mereka tidak runtuh oleh ketidakpedulian generasi berikutnya.