PANGANDARAN, CEKBER.com – Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiradinata menyoroti penurunan drastis hasil produksi tangkapan laut serta carut-marut regulasi penangkapan benur atau baby lobster dalam gelaran tradisi Hajat Laut (Syukuran Nelayan) di pesisir Pantai Batukaras, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Kamis 25 Juni 2026.
Dalam pidatonya, Jeje mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ekonomi para nelayan, khususnya di wilayah Batukaras, Parigi, dan Pangandaran. Berdasarkan data yang dihimpun dari Koperasi Unit Desa (KUD) dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), nilai produksi tangkapan nelayan dari Januari hingga Mei mengalami penurunan signifikan.
Produksi Turun Miliaran Rupiah
Menurut Jeje, penurunan pendapatan nelayan di wilayah Batukaras saja tercatat mencapai lebih dari Rp2 miliar jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
”Dari bulan Januari sampai Mei, penurunan produksi di Batukaras mencapai 2 miliaran rupiah,” ujar Jeje di hadapan ratusan nelayan.
Selain penurunan nilai ekonomi, terjadi pergeseran drastis pada komoditas hasil tangkapan. Jika biasanya udang menjadi komoditas primadona nelayan Pangandaran dengan porsi 70 persen dibanding ikan, kini kondisinya berbalik.
Saat ini, tangkapan didominasi oleh ikan sebanyak 80 persen, sementara udang menyusut hingga tersisa 20 persen saja. Nelayan menduga, migrasi habitat udang ke tengah laut dipicu oleh kondisi pesisir yang dinilai mulai tidak ramah akibat eksploitasi.
Pemberlakuan Zonasi Baby Lobster
Menyikapi fenomena tersebut, Pemkab Pangandaran bersama pihak terkait akan memperketat regulasi penangkapan melalui pemberlakuan sistem zonasi, terutama untuk komoditas baby lobster yang belakangan marak diburu secara ilegal di area pinggir pantai.
”Sisi lautan saat ini gersang karena banyak yang menangkap baby lobster. Lautnya menjadi rontok,” tegas Jeje.
Sebagai langkah penertiban, pemerintah daerah akan membagi wilayah penangkapan. Nelayan atau pengepul benur dari luar daerah Pangandaran diminta untuk sementara waktu menghentikan aktivitas dan pulang ke daerah asal hingga regulasi penataan zonasi ini rampung dan berjalan kondusif.
Evaluasi dan Bantuan Sosial
Di akhir sambutannya, Jeje menekankan, esensi Hajat Laut bukan sekadar ritual budaya atau tontonan, melainkan momentum evaluasi total terhadap pola hidup dan keselamatan kerja nelayan. Ia juga mengingatkan agar para nelayan menjaga nilai etika dan tidak tergiur dengan hasil instan yang merusak ekosistem.
Dalam acara tersebut, turut diserahkan bantuan sosial secara simbolis berupa 100 paket sembako dari Anggota DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata, untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga nelayan yang terdampak paceklik tangkapan. ***






Tinggalkan Balasan