BERITA PANGANDARAN – Di tengah kepungan polusi dan ketidakpastian cuaca, sebuah gelombang kreatif lahir dari tangan-tangan muda di berbagai pelosok Nusantara. Lewat kompetisi video pendek bertajuk RYCAM Short Video Contest 2025, generasi Z hingga milenial membuktikan bahwa kepedulian terhadap krisis iklim bukan lagi sekadar narasi di meja seminar, melainkan aksi nyata yang direkam dalam bingkai visual.
Kompetisi yang diinisiasi oleh Rural Youth Climate Action Movement (RYCAM) ini mengusung tema besar: “Youth for Climate Action: Muda, Beraksi untuk Masa Depan Iklim.” Tak sekadar ajang adu estetika, ruang ini menjadi corong partisipatif bagi pemuda untuk menyuarakan dampak perubahan iklim yang mereka saksikan di depan mata.
Denyut Kesadaran dari Barat ke Timur
Antusiasme yang muncul tergolong luar biasa. Sebanyak 105 peserta ikut ambil bagian, dengan sebaran 80 peserta dari wilayah Indonesia Barat dan 25 dari wilayah Indonesia Timur. Angka ini mencerminkan satu hal: kesadaran akan krisis iklim telah merambah jauh ke tingkat lokal dan pedesaan.
Para peserta mengangkat isu-isu yang membumi namun krusial, seperti:
- Ketahanan Pangan: Bagaimana perubahan cuaca mengancam meja makan kita.
- Manajemen Sampah: Solusi praktis dari limbah rumah tangga.
- Pertanian Ramah Iklim: Praktik agrikultur yang tak lagi membebani emisi gas rumah kaca.
”RYCAM Short Video Contest 2025 membuktikan bahwa pemuda memiliki kepedulian dan kapasitas besar untuk berbicara tentang isu iklim melalui cara yang kreatif dan membumi,” ujar Kustiwa, Project Lead Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI), Selasa 3 Februari 2026. Ia menekankan bahwa video-video ini menghadirkan harapan dari tingkat lokal.
Belajar dari Konteks Lokal
Senada dengan Kustiwa, Tandu Ramba dari Motivator Pembangunan Masyarakat (MPM) Toraja, melihat ajang ini sebagai ruang belajar yang unik. “Pemuda diajak memahami perubahan iklim dari konteks kehidupan mereka sendiri,” tuturnya. Dengan narasi yang kuat, pesan iklim diharapkan mampu mendorong aksi kolektif yang lebih luas.
Setelah melalui proses penjurian independen oleh para profesional, sederet nama muncul sebagai pemenang utama:
Wilayah Indonesia Timur:
- Akbar Fernando Ndabung: Pilah dan Olah Supaya Climate Change Tidak Semakin Parah.
- Anugra Putri Ramdani: Ketika Iklim Mengubah Pangan: Saatnya Generasi Muda Bergerak.
- Muh. Sabir: Dari Sampah Makanan Menuju Pahlawan Iklim.
Wilayah Indonesia Barat:
- Yahya Nur Rohman: Petani Muda Beraksi Lewat Langkah Kecil Lawan Perubahan Iklim.
- Ultra Green Team: Generasi Muda untuk Pertanian dan Iklim.
- Arya Seta Yudayana: Menanam Harapan di Langit Jakarta.
Apresiasi Kreativitas dan Pesan Visual
Selain pemenang utama, RYCAM memberikan penghargaan khusus untuk kategori elemen visual, narasi dan konsep. Di wilayah Barat, judul seperti “Asap yang Tak Kami Nyalakan” karya Aditia Pratama menonjol secara konsep, sementara di wilayah Timur, karya Angel, dkk berjudul “Mengapa Aku Kembali ke Tanah” mencuri perhatian juri.
Kategori terfavorit yang ditentukan melalui jumlah likes di Instagram juga menunjukkan interaksi publik yang tinggi. Nama-nama seperti Duo Cangkul (Barat) dan Gaung Tapa Wisyah (Timur) berhasil memenangkan hati warganet melalui konten yang edukatif sekaligus menghibur.
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Bagi RYCAM, ajang ini hanyalah titik awal. Seluruh karya yang dapat diakses melalui akun Instagram @rycam.id adalah aset pembelajaran untuk membangun ekosistem gerakan pemuda yang berkelanjutan.
Informasi lebih lanjut mengenai langkah-langkah nyata RYCAM dalam memperkuat ketahanan pangan dan praktik ramah iklim dapat diakses melalui laman resmi mereka di rycam.id. Di tangan pemuda pedesaan inilah, masa depan iklim Indonesia sedang dipertaruhkan. Dan hari ini, mereka memilih untuk tidak tinggal diam.






