BERITA PANGANDARAN – Langit sore di Desa Babakan tampak lebih sibuk dari biasanya pada Kamis 12 Februari 2026. Ratusan warga memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karang Sari. Di tangan mereka, sabit, sapu lidi, hingga bunga tabu dibawa sebagai perlengkapan utama.
Ini bukan sekadar pembersihan lahan, melainkan ritual tahunan bertajuk “Resik Makam”, sebuah tradisi yang telah terjaga selama tujuh tahun terakhir menjelang bulan suci Ramadan.
Agenda rutin yang digagas oleh Pemerintah Desa Babakan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat ini menyasar dua lokasi utama, yakni Dusun Bojongsari dan Dusun Karang Gedang.
Ziarah yang Terorganisir
Berbeda dengan ziarah personal yang kerap tampak sporadis, Resik Makam di Desa Babakan dikemas lebih tertata. Pemerintah desa turun tangan langsung untuk memastikan kegiatan berjalan khidmat.
Kasi Pelayanan Desa Babakan Wahab Kuswadi menjelaskan, keterlibatan perangkat desa bertujuan agar tradisi ini memiliki dampak sosial yang lebih luas. “Kami ingin pelaksanaannya lebih terarah. MUI memandu jalannya doa dan pembacaan surat Yasin, sehingga suasana khidmat benar-benar terasa,” ujar Wahab di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, ziarah ini bukan hanya soal urusan spiritual antara yang hidup dan yang mati, melainkan bentuk penghormatan kolektif kepada para leluhur sebelum memasuki bulan puasa.
Lebih dari Sekadar Ritual Keagamaan
Di bawah rimbunnya pohon-pohon kamboja, TPU Karang Sari berubah menjadi ruang sosial dadakan. Warga yang mungkin jarang bertemu di hari biasa, tampak saling bertegur sapa sembari mencabuti rumput liar di atas pusara keluarga mereka.
”Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Sambil bersih-bersih dan mendoakan keluarga yang sudah meninggal, warga juga saling menguatkan kebersamaan,” tambah Wahab.
Bagi masyarakat Pangandaran, ziarah menjelang Ramadan adalah paket lengkap: pembersihan makam secara fisik, pembersihan jiwa secara spiritual dan pembersihan sekat-sekat sosial melalui tegur sapa.
Komitmen Pelestarian Budaya
Memasuki tahun ketujuh, tradisi ini terus dipertahankan sebagai wujud nyata nilai religius warga pesisir. Di tengah arus modernisasi pariwisata Pangandaran, Desa Babakan tetap memilih untuk menundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa bagi mereka yang telah tiada sebelum menyambut bulan yang penuh berkah.
Resik Makam kini bukan sekadar program kerja desa, melainkan identitas kultural yang menjanjikan ketenangan batin bagi warga sebelum menunaikan ibadah puasa di tahun 2026 ini.





