PANGANDARAN – Matahari Pangandaran sedang terik-teriknya ketika sebuah pemandangan kontras tersaji di pinggir jalan aspal. Di sana, seorang pemuda duduk tegak di atas sepeda motor yang telah dimodifikasi khusus. Namanya Mochamad Agung Laksamana, seorang penyandang disabilitas tunadaksa yang menolak menyerah pada keterbatasan fisik.
Kejutan datang saat Bupati Pangandaran Citra Pitriyami menghentikan langkahnya. Tanpa sekat protokoler yang kaku, Citra menghampiri Agung. Mengenakan kacamata hitam dan kerudung bermotif bunga, sang Bupati meletakkan tangannya di bahu Agung, sebuah gestur sederhana yang meluruhkan jarak antara pejabat dan rakyatnya.
Suara dari Pesisir
Agung bukan sekadar warga biasa yang ingin berswafoto. Di balik senyum lebarnya, ia membawa aspirasi yang konkret. Melalui kanal YouTube-nya, “Moch Agung Laksamana”, ia kerap menyuarakan hak-hak kaum disabilitas di Pangandaran.
”Pak Dedi, titip salam. Saya ingin akses disabilitas di pantai diperbaiki agar kami juga bisa menikmati indahnya laut,” ujar Agung dengan nada penuh harap, merujuk pada pesan yang ingin ia sampaikan melalui perantara sang Bupati.
Citra menyimak dengan saksama. Baginya, Agung adalah pengingat bahwa pembangunan infrastruktur pariwisata Pangandaran tidak boleh meninggalkan siapa pun. “Nanti Ibu sampaikan ya ke Pak Dedi. Agung sehat terus, ya,” balas Citra sembari memberikan semangat.
Inspirasi Tanpa Batas
Bagi Agung, disabilitas bukanlah penghalang, melainkan cara lain untuk melihat dunia. Semangatnya untuk tetap produktif sebagai kreator konten menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak otomatis mematikan kreativitas. Di atas motor roda tiganya, ia berkeliling, merekam, dan bercerita.
Pesan Agung bagi rekan-rekan sesama disabilitas sangat lugas: “Jangan pernah malu dengan keadaan. Di balik ketidaksempurnaan, pasti ada hikmah yang tidak dimiliki orang lain.”
Pertemuan singkat di bahu jalan itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah potret tentang keberanian seorang warga menuntut haknya, dan kesediaan seorang pemimpin untuk mendengarkan.
Di Pangandaran, Agung telah membuktikan bahwa roda kehidupan seperti roda motornya akan terus berputar selama mesin semangat tetap menyala.





