WACANA Ibu Susi Pudjiastuti mengenai denda bagi pembuang puntung rokok sembarangan di Pantai Pangandaran tentu memicu reaksi beragam, terutama dari perspektif para perokok.

​Bagi seorang pecandu rokok, usulan Ibu Susi bak pedang bermata dua. Di satu sisi, kebersihan pantai adalah kebanggaan, namun di sisi lain, aturan ini terasa seperti “perburuan hadiah” yang menyudutkan satu kelompok.

​1. Ketakutan akan “Budaya Cepu” Berhadiah

​Poin yang paling meresahkan bagi perokok adalah sistem pelapor mendapatkan hadiah. Ini berpotensi menciptakan gesekan sosial:

  • ​Sentimen: Muncul perasaan diawasi oleh sesama wisatawan atau warga yang hanya mengincar insentif uang.
  • ​Risiko: Alih-alih mengedukasi, hal ini dikhawatirkan memicu konflik di lapangan antara perokok dan “pemburu denda”.

2. Kritik atas Minimnya Fasilitas Asbak Publik

​Seorang perokok seringkali berargumen bahwa mereka membuang puntung sembarangan karena sulitnya menemukan tempat sampah khusus puntung yang tahan api.

​Jika denda diterapkan, harus dibarengi dengan penyediaan asbak publik yang masif di sepanjang garis pantai Pangandaran.

​Tanpa fasilitas, aturan ini dianggap hanya sebagai cara “memalak” wisatawan tanpa memberikan solusi infrastruktur.

​3. Pangandaran: Surga yang (Mulai) Tidak Ramah Perokok?

​Bagi wisatawan lokal yang terbiasa menikmati senja dengan sebatang rokok, aturan ini bisa mengubah persepsi mereka terhadap Pangandaran: Muncul rasa tidak nyaman atau was-was berlebihan saat bersantai.

​Ada kekhawatiran bahwa citra Pangandaran yang santai akan berubah menjadi kaku dan penuh tekanan aturan administratif.

​4. Tantangan Penegakan Hukum yang Adil

​Pecandu rokok sering merasa menjadi “kambing hitam” polusi. Mereka akan bertanya:
​”Kenapa hanya puntung? Bagaimana dengan sampah plastik dari kemasan makanan yang volumenya jauh lebih besar?”

​Ada tuntutan agar penegakan aturan ini tidak tebang pilih dan hanya menyasar objek yang kecil seperti puntung, sementara sampah korporasi atau limbah hotel tetap luput dari denda serupa.

​Kesimpulan Sudut Pandang Perokok

​Secara prinsip, banyak perokok setuju dengan kebersihan. Namun, mereka lebih memilih pendekatan penyediaan fasilitas asbak yang estetik daripada sistem sayembara pelaporan yang dianggap intimidatif. Bagi mereka, rokok di pantai adalah ritual ketenangan. Dan denda ini berisiko merusak “ketenangan” tersebut jika tidak dikelola dengan bijak.