Setelah menuntaskan mandat di pendopo, Jeje Wiradinata tak memilih menepi. Ia justru kembali ke bau amis tempat pelelangan ikan, mencoba mengurai benang kusut koperasi yang sempat ia tinggalkan demi urusan birokrasi.
DI JALANAN PANGANDARAN, sosoknya kini lebih sering terlihat tanpa pengawalan protokoler. Mengenakan kemeja santai dengan kancing atas terbuka, Jeje Wiradinata menyapa warga layaknya kawan lama. Namun, jangan terkecoh dengan penampilan santainya. Meski masa jabatannya sebagai Bupati Pangandaran telah usai pada 20 Februari 2025 lalu, pengaruh Jeje tetap terasa kuat di setiap sudut kabupaten paling bungsu di Jawa Barat ini.
Kini, hari-harinya terbagi antara meja kerja DPC PDI Perjuangan dan aroma laut di KUD Minasari. Bagi Jeje, melepaskan jabatan publik bukanlah akhir pengabdian, melainkan momen untuk kembali ke akar. Ia langsung tancap gas melakukan evaluasi total di koperasi nelayan yang menjadi jantung ekonomi pesisir tersebut. Di sana, ia menemukan kenyataan pahit: volume transaksi koperasi merosot tajam, menyisakan lubang sekitar Rp20 miliar dari target yang seharusnya.
”Masalahnya bukan pada ikannya, tapi pada sistem distribusi yang terlalu panjang dan harga yang tidak kompetitif,” ujarnya dengan nada tegas. Jeje melihat sistem yang ada justru “mengusir” nelayan untuk menjual hasil tangkapan di luar Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Lahir dan tumbuh di lingkungan pesisir, Jeje adalah produk dari “sekolah jalanan” dan tempaan organisasi. Kariernya merangkak dari bawah: dari ketua ranting partai hingga menjadi nakhoda pertama di Pangandaran selama dua periode. Di bawah kepemimpinannya, wajah pesisir selatan itu bersalin rupa. Pantai yang dulunya semrawut ditata ulang menjadi pedestrian yang rapi, sebuah warisan fisik yang kini ia titipkan pada sejarah.
Tangan Dingin Jeje Wiradinata
Kini, di tangan dinginnya, ia mencoba membangkitkan kembali gairah KUD Minasari. Langkah berani diambil dengan menutup TPI Muara untuk mengonsolidasi kekuatan. Bagi Jeje, ini bukan pelemahan, melainkan strategi agar kontrol harga kembali ke tangan koperasi. Ia bahkan turun langsung mengedukasi para juru lelang agar tidak menetapkan harga dasar yang mencekik nelayan.
Namun, panggung politik Jeje pun belum benar-benar redup. Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Pangandaran, ia tetap menjadi dirigen utama yang mengatur ritme gerakan “banteng” di wilayah Priangan Timur. Ia dikenal sebagai petarung yang andal dalam menjaga basis massa, sekaligus komunikator yang lihai menjembatani kepentingan elite partai dengan realitas di lapangan.
Kritikus mungkin melihat langkahnya di KUD Minasari sebagai upaya menjaga eksistensi, namun bagi para pendukungnya, ini adalah bukti konsistensi. Bagi pria yang gemar menyeruput kopi di warung pinggir jalan ini, politik dan pemberdayaan ekonomi warga adalah dua sisi dari koin yang sama.
Jeje kini meniti jalan barunya, bukan lagi dari balik meja pendopo, melainkan dari dermaga dan kantor partai. Di sana, ia tetap menjadi sosok yang sama: anak pesisir yang tahu betul kapan harus menebar jaring dan kapan harus menariknya untuk kepentingan rakyat banyak.





