PANGANDARAN, CEKBER.com – Matahari di Pantai Barat Pangandaran sedang terik-teriknya saat Ida Nurlaela Wiradinata melangkah menyusuri pasir menuju markas Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista).
Senin siang itu, 27 April 2026, bukan sekadar kunjungan seremonial bagi anggota DPR RI tersebut, melainkan sebuah sesi “curhat” bagi para penjaga nyawa di pesisir selatan Jawa Barat.
Di bawah naungan pos jaga, suasana cair segera terbangun. Namun, di balik tawa dan sapaan hangat, terselip kegelisahan yang nyata dari para personel Balawista.
Kepada Ida, mereka menumpahkan realitas lapangan yang tak seindah pemandangan laut: minimnya amunisi untuk bertarung dengan maut.
Alat yang Tak Memadai
Dalam menjalankan tugas sebagai garda terdepan keselamatan wisatawan, Balawista mengaku masih tertatih secara fasilitas. Aspirasi yang disampaikan mengerucut pada tiga kebutuhan mendesak:
- Alat Komunikasi: Penambahan unit Handy Talky (HT) untuk koordinasi cepat saat terjadi laka laut.
- Mobilitas: Sepeda motor operasional untuk memantau garis pantai yang panjang.
- Perlengkapan Teknis: Pembaruan alat penyelamatan (rescue tools) yang sudah mulai usang dimakan garam dan usia.
”Tadi berkunjung ke Pantai Pangandaran menemui teman-teman Balawista. Alhamdulillah, senang bisa berbagi kebahagiaan bersama mereka,” ujar Ida seusai pertemuan.
Janji dari Senayan
Ida tak menampik bahwa beban kerja Balawista tidak sebanding dengan fasilitas yang mereka miliki saat ini. Baginya, kelompok ini adalah pilar vital bagi industri pariwisata Pangandaran. Tanpa rasa aman, kemolekan pantai selatan tak akan punya arti bagi pengunjung.
Mencatat daftar panjang kebutuhan operasional tersebut, Ida berkomitmen untuk membawa “oleh-oleh” dari Pangandaran ini ke meja parlemen. Targetnya jelas: pemenuhan sarana kerja demi memompa semangat para penjaga pantai.
“Kebutuhan operasional kebanyakan yang mereka minta. Mudah-mudahan dengan (upaya pemenuhan) ini, mereka bisa menjadi lebih semangat,” tutup politikus tersebut.
Bagi para personel Balawista, janji ini adalah secercah harapan. Di tengah deburan ombak selatan yang tak terprediksi, mereka hanya butuh dukungan yang nyata untuk memastikan setiap wisatawan yang datang bisa pulang dengan selamat.






Tinggalkan Balasan