Berita  

Cuaca Buruk Hantam Pangandaran, Nelayan Jaring Arad Bertaruh Nasib di Tengah Ombak

Aktivitas nelayan jaring arad di Pantai Timur Pangandaran. ist

BERITA ​PANGANDARAN – Matahari Minggu siang, 25 Januari 2026, membakar kulit di pesisir Pantai Timur Pangandaran, Jawa Barat. Namun, terik itu tak menyurutkan belasan lelaki yang tengah berjibaku di bibir pantai.

Sebagian besar dari mereka, yang rambutnya telah memutih dimakan usia, bergotong royong menarik tali tambang yang menjulur jauh ke tengah laut.

​Mereka adalah nelayan jaring arad. Di tengah terpaan angin kencang dan debur ombak yang tak bersahabat, mereka menggantungkan hidup pada laut yang belakangan ini “pelit” memberi hasil.

​Proses menarik jaring bukanlah perkara mudah. Dengan bantuan mesin seadanya dan sisa tenaga otot, butuh waktu hingga satu jam untuk menyeret jaring itu ke daratan. Harapan membuncah di setiap tarikan, meski kerap kali berujung kecewa.

Baca juga:  Pasangan Citra-Ino Unggul di Pilkada Pangandaran 2024

​Saat ujung jaring menyentuh pasir, kenyataan pahit menyeruak. Bukan tumpukan ikan segar yang melimpah, melainkan sampah laut yang mendominasi, membelit sedikit hasil tangkapan.

Cuaca Ekstrem Membuat Nelayan Menghela Napas

​Harum, 47 tahun, salah seorang nelayan, hanya bisa menghela napas. Ia mengakui hasil tangkapan merosot tajam akibat cuaca ekstrem.

​”Sekarang memang lagi sepi hasilnya karena cuaca. Biasanya sekali tarik bisa dapat 15 sampai 20 kilogram, sekarang paling lima kilogram,” ujar Harum saat ditemui Cekber.com di lokasi.

​Menurut Harum, kondisi ini memukul telak para nelayan jaring arad. Berbeda dengan nelayan pancing yang relatif masih bisa bermanuver, nelayan jaring sangat bergantung pada arus dan kebersihan laut. Jika ombak besar membawa sampah, jaring mereka yang menjadi korban.

Baca juga:  Waspadai Gejala Infeksi Menular Seksual, RSUD Pandega Imbau Masyarakat Segera Periksa Jika Alami Tanda-Tanda Ini

​Meski minim, ikan-ikan kecil seperti teri, pepetek, dan layur yang tersangkut di jaring tetap menjadi penyambung napas. Ikan-ikan itu langsung dijajakan kepada wisatawan atau warga lokal yang memburu ikan segar di pinggir pantai.

​Harganya bervariasi. Ikan pepetek dijual dikisaran Rp 20 ribu per kilogram, sementara ikan layur dibanderol antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram, bergantung pada ukurannya.

​”Yang kena dampaknya itu kita. Tapi ya mudah-mudahan cuaca bisa cepat normal lagi,” tutur Harum, menutup percakapan dengan seulas harapan agar laut kembali ramah.