WARTA  

Gusar Dedi Mulyadi di Sekolah ‘Oven’ Pangandaran

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi beserta rombongan saat meninjau bangunan SMA Negeri 1 Sidamulih, Kabupaten Pangandaran.

​PANGANDARAN, CEKBER.com – Langkah kaki Dedi Mulyadi terhenti di lorong bangunan baru SMA Negeri 1 Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Alih-alih meresmikan gedung yang tampak mentereng dari kejauhan itu, Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa KDM ini justru menunjukkan gurat kekecewaan.

Baginya, bangunan yang berdiri di Blok Karikil, Desa Cikalong tersebut bukan tempat belajar, melainkan sebuah “oven” raksasa bagi para siswa. Kekecewaan Dedi meledak saat ia meninjau langsung detail arsitektur sekolah berstatus negeri tersebut.

Dalam sebuah rekaman kunjungan lapangan, Dedi tampak memberikan teguran keras kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat serta perwakilan Dinas Perumahan dan Permukiman Jabar.

​Desain yang Alpa Sirkulasi

​Dedi menyoroti kegagalan perencana dalam memahami konteks iklim tropis di wilayah Kecamatan Sidamulih yang berada di kawasan berbatu kapur. Tanah kapur dikenal menyimpan panas, namun desain gedung SMA Negeri 1 Sidamulih justru dianggap menutup akses sirkulasi udara secara alami.

Baca juga:  RSUD Pandega Pangandaran Peringati Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

​”Jendela jangan dibuka ke atas begini, harusnya ke samping supaya angin masuk,” ujar Dedi dengan nada tinggi sembari menunjuk bingkai jendela.

​Kritiknya tak berhenti di situ. Ia juga mempermasalahkan pemasangan plafon yang dianggap menutup aliran udara dari bagian atas bangunan. Menurutnya, desain tersebut adalah sebuah kekonyolan teknis.

“Ini mah bodor (konyol), kayak oven,! Kalau mau udara masuk, jangan pakai ini, langsung dak saja di atas,” katanya.

​Tak hanya soal suhu, Dedi juga mengeluhkan pemilihan warna lantai yang putih mengkilap karena dianggap menyilaukan mata, serta minimnya penghijauan di sekitar lokasi sekolah yang masih gersang.

​Menolak Peresmian

​Dedi Mulyadi memilih sikap ekstrem: menolak menandatangani dokumen peresmian sekolah tersebut. Baginya, membubuhkan tanda tangan berarti melegalkan proyek yang ia anggap dikerjakan tanpa perencanaan matang atau “asal jadi”.

Baca juga:  Taiwan Jadi Magnet Utama PMI Asal Pangandaran, Jalur Ilegal Masih Membayangi

​”Saya tidak mau tanda tangan. Kalau saya tanda tangan, berarti saya menyetujui konsep yang jelek,” tegas mantan Bupati Purwakarta tersebut. Ia memberikan syarat mutlak: perbaiki sirkulasi, tanam pohon hingga hijau dan pastikan kenyamanan siswa di SMA Negeri 1 Sidamulih terjamin.

​Lelang Spontan di Lapangan

​Menyadari suhu di dalam kelas yang bakal menyiksa siswa, Dedi melakukan aksi tak terduga. Di hadapan rombongan pejabat daerah, termasuk Bupati Subang dan Bupati Cianjur ia membuka “lelang” bantuan pendingin ruangan (AC).

​Aksi “todong” ini pun membuahkan hasil instan. Secara spontan, terkumpul komitmen bantuan belasan unit AC untuk mendinginkan gedung tersebut:

  • ​Dedi Mulyadi: 10 Unit
  • ​Bupati Subang: 1 Unit
  • ​Sejumlah Wali Kota dan Bupati: Masing-masing 2 unit
  • ​Para Kepala Dinas (PU, Bappeda, BKD): Masing-masing 1 unit
Baca juga:  Soal Pangkat Jenderal Kehormatan Prabowo, Lemkapi Minta Jangan Dipolitisasi

​Sedikitnya 18 unit AC kini dijanjikan untuk menambal kesalahan desain sirkulasi udara sekolah tersebut. Bagi Dedi, pembangunan sekolah di Jawa Barat seharusnya bukan sekadar mengejar serapan anggaran fisik, melainkan menciptakan ruang yang manusiawi bagi proses belajar-mengajar.

error: Content is protected !!