PANGANDARAN, CEKBER.com – Kesiapsiagaan mitigasi bencana di kawasan pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dinilai masih menyisakan celah kritis. Potensi ancaman gempa bumi dan tsunami berisiko tinggi mengintai ribuan warga lokal serta wisatawan yang memadati kawasan pantai setiap akhir pekan.
Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana, menyoroti perluasan destinasi wisata yang kini justru kian merambah zona sempadan pantai (harim laut). Kawasan-kawasan baru tersebut berada tepat di garis merah risiko bencana.
”Mitigasi bencana itu wajib, apalagi di Pangandaran yang pesisirnya cukup panjang. Bukan hanya untuk warga lokal, tetapi daerah ini didatangi ribuan wisatawan setiap minggunya,” kata pria yang akrab disapa Nanay itu, Kamis 10 September 2026.
Nana mempertanyakan kesiapan konkret pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam memetakan jalur darurat.
“Apakah tempat evakuasi sudah disiapkan dan mencukupi? Apakah peralatan darurat dan kebutuhan dasar sudah memadai? Sudah sejauh mana seluruh stakeholder peduli terhadap kesiapsiagaan dini ini?” ujarnya.
Jalur Evakuasi Terlalu Jauh dan Minim Petunjuk Arah
Salah satu sorotan utama Tagana adalah akses jalur evakuasi dari pusat keramaian menuju zona aman dataran tinggi. Dari kawasan Pantai Barat Pangandaran, titik elevasi terdekat hanya berada di kawasan Cagar Alam Pananjung serta perbukitan di Desa Sukahurip dan Desa Purbahayu.
Kendala di lapangan, menurut Nana, badan jalan menuju lokasi tersebut masih sempit serta minim rambu penunjuk arah. Berdasarkan simulasi jalan cepat dari Pantai Barat (ujung tol) menuju Purbahayu atau Sukahurip, waktu tempuh memakan lebih dari 30 menit demi menyesuaikan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
”Padahal golden time evakuasi tsunami itu hanya antara 10 sampai 20 menit. Jelas ini ancaman nyata jika tidak segera diantisipasi jalurnya,” tutur Nana.
Jalur Lolos Melewati Zona Genangan Tertinggi
Kondisi tersebut diperparah oleh hasil permodelan potensi genangan yang pernah disimulasikan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam pemetaan tersebut, Desa Pangandaran dan Pananjung masuk dalam kategori zona merah pekat.
Sapuan gelombang tsunami diproyeksikan mampu menjangkau hingga wilayah persawahan di batas Sukahurip dan Purbahayu. Ironisnya, jalur evakuasi warga dan pelancong saat ini justru harus melintasi kawasan cekungan dataran rendah tersebut sebelum tiba di titik bukit yang aman.
”Jalur evakuasi kita justru melewati dataran paling rendah, yaitu area persawahan Sukahurip dan Purbahayu yang terlihat merah pekat dalam peta risiko. Artinya, potensi genangan airnya justru paling tinggi di sana,” kata Nana menegaskan pentingnya pembenahan cetak biru evakuasi secara menyeluruh.






Tinggalkan Balasan