PANGANDARAN – Di sudut Lapang Merdeka Pangandaran, sebuah bangunan kecil berdiri menantang sepi. Ia tidak bisu, tetapi suaranya seolah teredam oleh riuh rendah pariwisata yang kian menggeliat.
Bangunan itu adalah Pojok Baca. Diresmikan dengan sorot kamera dan pidato manis pada Mei 2018, tempat ini digadang-gadang menjadi oase literasi di tengah hiruk-pikuk kota wisata. Namun, laporan terkini menyuguhkan realitas yang pahit: fasilitas ini kini dalam kondisi memprihatinkan, layaknya monumen yang ditinggalkan peradaban.
Ironi di Pusat Kota
Ketika pertama kali dibuka, Pojok Baca ini membawa angin segar. Visinya mulia: mendekatkan buku kepada masyarakat dan wisatawan, menjadikan Lapang Merdeka bukan sekadar tempat berolahraga atau bersantai, tapi juga ruang kontemplasi intelektual.
Namun, empat tahun berselang, visi itu tampak memudar bersama cat dinding yang mengelupas. Buku-buku yang seharusnya menjadi jendela dunia, kini mungkin lebih akrab dengan debu dan rayap ketimbang sentuhan tangan pembaca. Kerusakan fasilitas fisik bukan sekadar masalah estetika; ia adalah simbol dari kegagalan pemeliharaan.
Sangat ironis ketika Pangandaran terus mempercantik diri dengan hotel-hotel megah dan penataan pantai yang modern, sebuah ruang literasi seluas beberapa meter persegi justru “hidup segan, mati tak mau.”
Jebakan Mentalitas “Proyek”
Kasus Pojok Baca Pangandaran ini sejatinya adalah mikrokosmos dari masalah klasik pembangunan fasilitas publik di Indonesia. Kita terjebak dalam mentalitas proyek fisik.
Pemerintah daerah seringkali piawai dalam membangun, menggunting pita, mengundang pers dan memajang foto peresmian di media sosial. Namun, mereka gagap dalam merawat.
”Membangun perpustakaan itu mudah, semudah menumpuk bata dan semen. Namun, membangun ekosistem literasi membutuhkan nafas panjang bernama konsistensi.”
Pojok baca yang rusak bukan hanya soal kurangnya anggaran perbaikan. Ini soal prioritas. Jika literasi benar-benar dianggap sebagai fondasi kemajuan daerah, maka pemeliharaan Pojok Baca seharusnya sama pentingnya dengan perbaikan jalan berlubang atau promosi wisata.
Membiarkannya terbengkalai mengirimkan pesan yang berbahaya kepada publik: bahwa ilmu pengetahuan hanyalah ornamen pelengkap, bukan kebutuhan primer.
Menanti Keseriusan, Bukan Sekadar Wacana
Kondisi memprihatinkan di Lapang Merdeka ini harus menjadi alarm keras bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta Pemerintah Kabupaten Pangandaran.
Revitalisasi adalah harga mati. Namun, revitalisasi fisik saja tidak cukup. Diperlukan revitalisasi manajemen:
● Pengelola yang Aktif: Tempat ini butuh pustakawan atau relawan yang berdedikasi, bukan sekadar penjaga kunci.
● Program yang Hidup: Adakan bedah buku, dongeng anak, atau diskusi senja untuk menarik minat generasi muda.
● Integrasi Wisata: Jadikan literasi sebagai bagian dari daya tarik wisata Pangandaran (Edu-Tourism).
Jika Pojok Baca ini hanya dibiarkan menjadi “rumah hantu” yang berisi buku, lebih baik ia ditutup sekalian. Jangan biarkan ia berdiri sebagai saksi bisu atas ketidakseriusan kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pangandaran butuh lebih dari sekadar pantai yang indah; ia butuh warganya yang cerdas dan berdaya. Dan itu dimulai dari buku yang terawat, bukan yang berdebu.






