Alun-alun Pangbagea di Cintakarya kini menjadi ikon kemegahan administratif Pangandaran. Namun, di balik arsitekturnya yang mentereng, ia masih berjuang menemukan denyut nadinya sendiri.
PANGANDARAN – Angin sore di bukit Cintakarya terasa berbeda dengan angin asin di Pantai Barat. Di sini, di pusat pemerintahan baru Kabupaten Pangandaran, berdiri sebuah lapangan luas dengan arsitektur modern yang diberi nama: Alun-alun Pangbagea.
Diresmikan sebagai simbol perpindahan “otak” pemerintahan dari pesisir yang hiruk-pikuk ke dataran tinggi yang tenang, Pangbagea memang menawarkan pesona visual. Desainnya futuristik, terintegrasi dengan kantor bupati yang megah. Namun, setelah euforia peresmian mereda dan pita guntingan tersapu angin, satu pertanyaan menyeruak: sudahkah ia benar-benar menjadi ruang hidup, atau sekadar monumen beton yang dingin?
Kemegahan yang Canggung
Harus diakui, Alun-alun Pangbagea adalah lompatan estetika. Ia mematahkan stigma bahwa alun-alun kabupaten hanyalah lapangan rumput dengan tiang bendera. Dengan amphitheater mini, jalur pedestrian lebar, dan tugu yang artistik, ia Instagramable. Generasi Z menyukainya.
Namun, ada kecanggungan yang terasa. Lokasinya yang berada di kompleks perkantoran jauh dari permukiman padat dan denyut wisata pantai membuatnya seringkali terasa “sepi nyaring”.
Pada hari kerja, ia hidup oleh seragam aparatur sipil negara (ASN). Namun saat matahari terbenam atau akhir pekan, ia berjuang menarik massa. Berbeda dengan Alun-alun Paamprokan yang riuh oleh turis, Pangbagea seperti anak baru yang masih malu-malu bergaul. Ia megah, tapi belum tentu “ramah” bagi semua lapisan.
Penyakit Lama: “Membangun Gampang, Merawat Susah”
Seperti lazimnya proyek infrastruktur di negeri ini, musuh terbesar Alun-alun Pangbagea bukanlah kritik, melainkan waktu dan cuaca. Beberapa sudut mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan dini.
Rumput yang mulai botak di beberapa titik, lampu taman yang kadang mati segan hidup tak mau, hingga sampah plastik bekas jajanan yang terselip di sela-sela tanaman hias, adalah alarm kuning. Kita sering terjebak pada mentalitas “proyek tuntas”. Padahal, sebuah ruang publik baru benar-benar “jadi” setelah ia dirawat secara konsisten selama bertahun-tahun.
Jika pemeliharaan hanya mengandalkan anggaran sisa, jangan kaget jika setahun ke depan, kemegahan Pangbagea hanya tinggal cerita di umbul-umbul bekas perayaan.
Bukan Sekadar Tempat Megah
Alun-alun sejatinya adalah “ruang tamu” kota. Ia harus inklusif. Ia harus menjadi tempat di mana pedagang kecil ditata (bukan digusur), tempat seniman lokal berekspresi tanpa birokrasi rumit, dan tempat warga biasa menggelar tikar tanpa rasa segan.
Pemerintah daerah perlu menyuntikkan “roh” ke dalamnya. Bukan dengan menambah bangunan, tapi dengan aktivitas. Festival budaya, pasar kaget mingguan, atau panggung musik rakyat bisa menjadi magnet untuk menarik warga naik ke Cintakarya.
Epilog
Alun-alun Pangbagea saat ini adalah cermin dari ambisi Pangandaran untuk naik kelas. Fisiknya sudah mentereng, infrastrukturnya sudah siap.
Namun, sebuah kota tidak dibangun hanya dari semen dan batu bata. Ia dibangun dari interaksi manusianya. Pangbagea masih punya PR besar: mengubah dirinya dari sekadar landmark foto menjadi ruang publik yang bernafas, hangat, dan milik semua orang. Sampai saat itu tiba, ia hanyalah sebuah lapangan indah yang kesepian di atas bukit.





