​PANGANDARAN, CEKBER.com – Angin laut berembus kencang di Blok Pasirlasih, Desa Kertamukti, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Di atas tebing curam Pantai Keusik Luhur yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, sejumlah pria tampak sibuk dengan perangkat optik mereka. Lokasi ini kembali menjadi titik krusial dalam menentukan awal penanggalan Hijriah bagi masyarakat Indonesia.

​Pada Kamis sore, 19 Maret 2026, Tim Hisab Rukyat dari Kementerian Agama bersiaga penuh. Mereka tidak sendiri; perwakilan dari Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), tokoh agama, hingga pejabat pemerintah daerah turut memaku pandangan ke garis cakrawala.

​Presisi di Tengah Keterbatasan Waktu

​Sejak pukul 16.00 WIB, dua buah teleskop, satu digital dan satu manual, telah berdiri kokoh. Kalibrasi dilakukan dengan presisi tinggi guna memastikan lensa membidik koordinat yang tepat saat matahari terbenam.

​Sekretaris DPD LDII Pangandaran Agung Herdianto mengungkapkan, tantangan pemantauan kali ini cukup berat. Berdasarkan perhitungan matematis atau data hisab, posisi bulan memang berada di atas ufuk, namun dalam posisi yang sangat tipis.

​”Ketinggian hilal di wilayah Pangandaran sore ini diprakirakan berada pada posisi 1,8° dengan elongasi 5,6°,” ujar Agung di lokasi pemantauan.

​Secara teoritis, angka 1,8° tersebut belum memenuhi kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura) yang mensyaratkan ketinggian minimal 3° dan elongasi 6,4°.

​Meski peluangnya kecil, celah sempit tetap ada. Jika langit bersih, petugas hanya memiliki durasi waktu sangat singkat, sekitar 3 menit untuk menangkap eksistensi hilal sesaat setelah matahari tenggelam pada pukul 17.50 WIB.

​Faktor Cuaca dan Pesan Persatuan

​Namun, alam memiliki kendalinya sendiri. Meski cuaca di darat terpantau cerah berawan, tumpukan awan tipis di garis pertemuan laut dan langit menjadi rintangan nyata. Para ahli harus jeli membedakan antara bias cahaya pada awan dengan lengkungan tipis bulan sabit yang asli.

​Hasil dari ikhtiar di Pantai Keusik Luhur ini nantinya tidak berdiri sendiri. Laporan akan dikirimkan secara real-time ke Jakarta sebagai data pembanding dalam Sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama.

​Di sisi lain, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pangandaran, KH. Harun Al Aziz mengingatkan masyarakat agar tetap tenang meski ada potensi perbedaan awal hari raya.

Ia menegaskan, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi persoalan fatal yang memecah belah umat. “Soal penentuan hari raya, kita ikuti keputusan resmi dari Kementerian Agama,” ujar KH. Harun singkat.

​Hingga berita ini diturunkan, tim teknis masih terus memantau pergerakan di ufuk barat, menanti apakah cahaya tipis itu akan menampakkan diri di sela sapuan awan Pangandaran.