PANGANDARAN, CEKBER.com – LAPUK dan ringkih. Begitulah gambaran gubuk yang dihuni Pak Saiman di sudut Desa Cibenda, Parigi, Pangandaran. Di usianya yang telah menyentuh 72 tahun, pria senja ini terbiasa berkawan dengan kecemasan. Setiap kali langit Pangandaran menghitam dan angin laut mulai menderu, atap rumahnya yang nyaris ambruk seolah berbisik tentang ancaman yang bisa datang kapan saja.

​Dinding bambu yang menopang hidupnya tak lagi kokoh; ia telah lama kalah oleh rayap dan waktu. Namun, di tengah kesunyian masa tuanya, sebuah ketukan pintu membawa kabar berbeda. Ida Nurlaela Wiradinata, Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat X, hadir di sana bukan sekadar untuk singgah.

​”Di balik dinding bambu yang kian lapuk, Pak Saiman tetap bertahan dengan harapan,” ujar Ida pelan, matanya menatap nanar ke arah langit-langit rumah yang bolong di sana-sini.

​Bagi legislator dari PDI Perjuangan ini, pertemuan di Cibenda itu bukan sekadar urusan konstituen dan suara. Ia melihat potret nyata dari sisa-sisa kemiskinan yang terselip di antara megahnya pariwisata Pangandaran.

Ida, yang mewakili suara warga Ciamis hingga Kota Banjar ini, langsung menginstruksikan renovasi total. Ia ingin memastikan bahwa di sisa usianya, Pak Saiman tak lagi harus memeluk lutut saat hujan badai datang.

​Rencana renovasi ini bukan hanya soal tumpukan semen atau susunan bata merah. Ini adalah upaya “menambal” martabat seorang lansia yang nyaris terlupakan oleh zaman. “InsyaAllah, rumah ini akan kita renovasi agar layak huni dan aman. Saya ingin memastikan bahwa beliau tidak sendiri,” tegas Ida dengan nada bicara yang bergetar namun mantap.

​Di tengah hiruk-pikuk politik ibu kota, aksi Ida di pelosok Parigi ini menjadi pengingat pedas: bahwa kebaikan sekecil apa pun adalah oksigen bagi mereka yang hampir kehabisan napas dalam kemiskinan. Kini, Pak Saiman tak lagi sekadar menunggu robohnya rumah, melainkan menunggu fajar baru di bawah atap yang lebih manusiawi.