Oleh : Dede Ihsan Rifa’i Bani Aziz

PANGANDARAN hari ini adalah potret sebuah daerah yang telah berlari kencang mengejar ketertinggalannya. Di tengah transisi kepemimpinan dari Jeje Wiradinata kepada Citra Pitriyami, riuh rendah perdebatan mengenai kondisi fiskal daerah memang tak terhindarkan.

Kas daerah yang mengetat dan melambatnya proyeksi pembangunan memunculkan kecemasan. Namun, di saat-saat seperti inilah kita perlu sejenak mengambil napas panjang, menepi dari hiruk-pikuk saling menyalahkan, dan melihat gambaran besarnya dengan hati yang lebih lapang.

​Mari menengok kembali perjalanan selama kurun waktu 2016 hingga 2025. Di bawah kepemimpinan Bupati Jeje Wiradinata, wajah Pangandaran berubah drastis. Kebutuhan dasar masyarakat tidak lagi menjadi barang mewah: kesehatan gratis, pendidikan gratis 12 tahun, hingga penataan infrastruktur dan pariwisata telah mewujud dalam kerja nyata.

​Kini, konektivitas antar-kecamatan terajut oleh jalan-jalan yang mulus. Gedung sekolah dan puskesmas berdiri dengan sangat layak. RSUD Pandega hadir sebagai pelita harapan bagi warga yang membutuhkan layanan medis terbaik tanpa harus ke luar daerah.

Tidak luput juga sentuhan pada urat nadi kehidupan warga melalui bantuan perahu bagi nelayan hingga dukungan untuk pondok pesantren. Semua itu adalah bukti karsa yang tulus untuk memanusiakan warganya.

Dua Sisi Koin: Syukur Publik dan Pengorbanan Birokrat

​Pembangunan yang melesat cepat ini pada akhirnya melahirkan sebuah realitas yang paradoks. Di satu sisi, jelas bahwa pihak yang paling diuntungkan dari arah kebijakan ini adalah masyarakat luas. Warga dari berbagai lapisan kini bisa menikmati fasilitas umum yang prima secara langsung tanpa harus menanggung beban biaya yang berat.

​Namun, di sisi lain, ketatnya ruang fiskal akibat beban defisit ini mengharuskan ada pihak yang “berkorban”. Saat ini, beban dan dampak kerugian terberat justru dipikul oleh jajaran birokrat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

​Demi menjaga agar kapal pemerintahan di bawah Citra Pitriyami tidak karam, ikat pinggang harus dikencangkan sekuat tenaga. Imbasnya langsung terasa ke dapur para abdi negara: tunjangan kinerja terpaksa dikurangi, sementara ruang gerak untuk program dan kegiatan di berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dipersempit secara drastis.

Ini adalah realitas pahit yang sedang dijalani para birokrat, di mana mereka harus menahan diri dan menekan kesejahteraan pribadi demi memastikan roda pelayanan publik untuk warga tetap berputar.

Memaknai Analogi “Bapak dan Anak”

​Di tengah sorotan atas defisit ini, beredar sebuah analogi sederhana yang justru menyejukkan dan memantik empati kita: Kondisi ini ibarat seorang bapak yang nekat mengambil kredit motor atau mobil demi masa depan dan kenyamanan anak-anaknya. Sang bapak mungkin mewariskan cicilan, tetapi ia juga mewariskan kendaraan yang setiap hari mempermudah langkah sang anak menuju sekolah atau tempat kerja.

​Dalam bingkai kekeluargaan ini, sungguh tidak elok jika kita menjelma menjadi “anak durhaka” yang menghujat sang bapak hanya karena belakangan tahu bahwa kendaraan itu diperoleh dari hasil berutang.

Mengutuk keadaan sembari tetap menikmati jalanan yang mulus, berobat di puskesmas yang bagus, dan menyekolahkan anak tanpa biaya, adalah sebuah ironi yang mencederai nurani. Apalagi, jika mengingat ada aparatur pemerintah yang tunjangannya dipotong demi mempertahankan fasilitas tersebut.

Gotong Royong Merawat Warisan

​Kritik tentu sah dalam alam demokrasi, namun kritik yang dilandasi oleh kecintaan akan jauh lebih membangun daripada cemoohan yang memecah belah. Beban defisit yang kini dipikul oleh pemerintahan saat ini bukanlah kutukan, melainkan harga dari sebuah kemajuan yang telah kita nikmati bersama.

​Kini, saatnya masyarakat Pangandaran merapatkan barisan. Pemerintahan Citra Pitriyami dan para birokratnya yang tengah memeras keringat melakukan efisiensi, membutuhkan dukungan moral warga untuk menyehatkan kembali postur keuangan daerah.

​Kita bisa mengambil peran masing-masing: merawat fasilitas umum yang sudah dibangun dengan susah payah agar tidak cepat rusak, mempromosikan pariwisata yang sudah tertata rapi agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat, dan menjaga iklim sosial yang kondusif. Pangandaran telah dibangun dengan peluh dan keberanian. Mari kita rawat warisan kebaikan ini dengan bahu-membahu meneruskan estafet untuk hari esok yang lebih cerah.

​Pangandaran telah dibangun dengan peluh dan keberanian mengambil risiko. Mari kita rawat warisan kebaikan ini bukan dengan merutuki kekurangan di masa lalu, melainkan dengan bahu-membahu meneruskan estafet kebaikan untuk hari esok yang lebih cerah. Sebab, pada akhirnya, Pangandaran adalah rumah kita bersama. ***