PANGANDARAN, CEKBER.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Pangandaran tengah didorong untuk melakukan transformasi besar. Tidak sekadar mengajar di depan kelas, para guru kini dituntut memiliki jiwa kewirausahaan (teacherpreneur) serta adaptif terhadap teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).
Hal ini ditegaskan oleh Ketua DPRD Pangandaran Asep Noordin dalam Seminar Nasional bertajuk “Great How to Be a Teacher” yang digelar di Hotel Laut Biru, Pangandaran, Senin 9 Maret 2026.
Menurut Asep, tantangan zaman menuntut pendidik untuk melampaui kurikulum formal demi mencetak generasi emas.
Bukan Sekadar Pengajar, Tapi Inspirator
Dalam paparannya, Asep menyoroti perbedaan mendasar antara pengajar dan guru yang mampu menginspirasi. Ia mengatakan, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses membentuk karakter dan kreativitas.
”Pengajar belum tentu mengajar, tapi guru yang hebat harus mampu menginspirasi,” ujar Asep di hadapan ratusan guru yang mengenakan seragam dinas cokelat.
Ia menambahkan, visi ini selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kabupaten Pangandaran di bawah kepemimpinan Bupati Citra Pitriyami.
Membangun Jiwa ‘Teacherpreneur’
Salah satu poin paling krusial yang disampaikan Asep adalah konsep teacherpreneur. Namun, ia meluruskan persepsi agar tidak terjadi salah kaprah. Menurutnya, menjadi teacherpreneur bukan berarti guru harus beralih profesi menjadi pedagang atau pengusaha murni.
”Bukan berarti guru harus jadi pengusaha secara harfiah. Tapi guru harus memiliki jiwa usaha, inovasi dan kreativitas dalam metode pembelajaran,” tuturnya.
Lebih lanjut, Asep menyebutkan, dengan kreativitas tersebut, guru diharapkan mampu menciptakan peluang atau kegiatan lain di bidang pendidikan yang dapat memberikan penghasilan tambahan tanpa meninggalkan kewajiban utama di sekolah.
“Guru hebat bisa menciptakan pengusaha, tapi pengusaha belum tentu bisa menciptakan guru,” tambahnya yang disambut tepuk tangan riuh peserta.
Menjawab Tantangan Digital dan AI
Menghadapi era digitalisasi, Asep Noordin secara spesifik menyinggung pentingnya penguasaan teknologi, termasuk AI. Ia berpendapat, di wilayah pedesaan seperti Pangandaran, kesenjangan digital harus segera dipangkas.
Beberapa manfaat AI bagi guru yang disoroti meliputi:
- Otomatisasi Tugas Rutin: Membantu administrasi agar guru fokus pada interaksi siswa.
- Pembelajaran Terdiferensiasi: Mempersonalisasi materi sesuai kemampuan masing-masing murid.
- Personal Branding Education: Membangun citra positif pendidikan melalui platform digital.
”Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, saya berharap ilmu yang disampaikan para motivator seperti Syafii Efendi bisa menjadi pemantik transformasi pendidikan di Pangandaran,” ucap Asep.





