WARTA  

Bakti Bocah Pangandaran: Di Sela Asap Sate Totok, Khoenunisa Menenun Mimpi

BERITA PANGANDARAN – Pagi belum sepenuhnya matang di halaman SDN 2 Kalipucang. Matahari baru saja mengintip malu-malu ketika kepul asap tipis mulai menari dari panggangan sate totok yang bersahaja. Di balik aroma gurih yang menusuk hidung, terselip sebuah pemandangan yang mampu menghentikan langkah siapa saja yang melintas.

​Di sana, di antara keriuhan bocah-bocah berseragam yang berkejaran, tampak Khoenunisa berdiri dengan tenang. Bocah perempuan berusia 11 tahun itu bukan sekadar sedang jajan. Jemari kecilnya tampak cekatan menyusun tusuk-tusuk sate, membantu sang nenek menyiapkan dagangan sebelum bel sekolah memanggilnya masuk ke ruang kelas.

​Khoenunisa adalah potret kontradiksi yang mengharukan: kepolosan masa kecil yang dipaksa bersentuhan dengan kerasnya ikhtiar hidup. Warga RT 04 RW 01 Dusun Girisetra ini adalah siswi kelas 5 yang memilih tidak berpangku tangan. Baginya, membantu nenek bukanlah sebuah beban yang mengimpit pundak, melainkan wujud cinta yang paling nyata.

Baca juga:  RSUD Pandega Pangandaran Tingkatkan Kesadaran Keselamatan Kerja

​”Khoenunisa ini anaknya rajin dan sangat sopan,” ujar Silviana Maya, Wali Kelas 5 SDN 2 Kalipucang, saat berbincang pada Senin 2 Februari 2026. Di mata Silviana, muridnya itu bukan sekadar angka di buku absen. Ia adalah contoh hidup tentang bagaimana karakter dibentuk oleh keadaan, bukan sekadar teori di papan tulis.

Bertansformasi Setelah Lonceng Berbunyi

​Setiap pagi, rutinitasnya selalu sama. Sebelum pelajaran dimulai, ia adalah pelayan pelanggan yang ramah. Namun, begitu lonceng berbunyi, Khoenunisa bertransformasi. Ia menanggalkan urusan dagang dan menyelami dunia ilmu dengan ketekunan yang sama besarnya.

​”Di kelas ia tetap fokus. Tidak pernah sekalipun saya mendengar ia mengeluh atau menjadikan kegiatannya membantu nenek sebagai alasan untuk tertinggal. Perjalanannya luar biasa untuk anak seusianya,” tambah Silviana dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.

Baca juga:  Pria di Pangandaran Cabuli Anak di Bawah Umur, AKBP Mujianto: Korban Sudah Melahirkan

​Kisah Khoenunisa adalah oase di tengah gempuran zaman yang serba instan. Di saat banyak anak seusianya asyik dengan gawai, Khoenunisa justru mengakrabkan diri dengan asap pembakaran dan peluh. Ada nilai kerja keras, kemandirian dan bakti yang mengalir alami tanpa perlu didikte.

​Kehidupan mungkin tidak memberikan hamparan karpet merah bagi keluarga Khoenunisa di pelosok Pangandaran ini. Namun, di balik kepul asap sate totok yang sederhana itu, ada harapan yang terus dirawat. Ada mimpi yang sedang diperjuangkan melalui setiap tusuk sate yang terjual dan setiap bab pelajaran yang ia lahap di kelas.

​Khoenunisa mengajarkan kita satu hal penting: bahwa kemiskinan materi tidak boleh membunuh kekayaan budi. Di langkah kecilnya yang tulus, tersimpan doa dan usaha untuk masa depan yang lebih benderang. Sebuah perjalanan yang patut kita jaga, agar apinya tidak pernah padam.

error: Content is protected !!