MUI Pangandaran meminta Kapolres AKBP Ikrar Potawari menindak tegas peredaran miras di hajatan dan judi online. Polisi diminta lakukan pendekatan persuasif jelang Ramadan.
BERITA PANGANDARAN – Pertemuan antara jajaran Kepolisian Resor (Polres) Pangandaran dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Markas Polres Pangandaran, Rabu 21 Januari 2026, tak sekadar menjadi ajang silaturahmi formal.
Dalam forum yang berlangsung dua jam itu, para ulama menumpahkan sejumlah kegelisahan terkait penyakit masyarakat yang dinilai kian meresahkan.
Kepala Polres Pangandaran Ajun Komisaris Besar (AKBP) Ikrar Potawari, menerima langsung aspirasi yang disampaikan Ketua MUI Kabupaten Pangandaran, K.H. Harun Al-Aziz, beserta para Ketua MUI tingkat kecamatan.
Soroti Miras di Hajatan dan Judi Online
Salah satu isu krusial yang mencuat adalah masih maraknya peredaran minuman keras (miras) dan praktik judi online. Para ulama secara spesifik menyoroti fenomena penyediaan miras dalam acara hajatan warga di beberapa wilayah. Kebiasaan ini dinilai perlu penanganan serius agar tidak menjadi budaya yang merusak moralitas.
”Kami berharap ada perhatian khusus terhadap maraknya judi online dan penertiban miras, apalagi menjelang bulan suci Ramadan,” ujar perwakilan ulama dalam forum tersebut.
Selain itu, MUI juga memberikan masukan terkait mekanisme penertiban warung makan yang beroperasi pada siang hari selama bulan puasa. Para ulama meminta kepolisian mengedepankan pendekatan yang persuasif, humanis, dan beretika, guna menghindari gesekan di masyarakat.
Polisi ‘Titip Diri’ ke Ulama
Merespons masukan tersebut, AKBP Ikrar Potawari menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti setiap keluhan. Ia menegaskan, Polres Pangandaran siap berkolaborasi untuk memberantas penyakit masyarakat demi menciptakan situasi keamanan dan ketertiban (Kamtibmas) yang kondusif di wilayah wisata tersebut.
Dalam kesempatan itu, Ikrar juga mengambil pendekatan rendah hati dengan “menitipkan” seluruh personelnya kepada para kiai.
”Kami titipkan personel Polres Pangandaran agar senantiasa dibimbing. Tolong ingatkan kami apabila terdapat kekhilafan dalam pelaksanaan tugas di lapangan,” tutur Ikrar.
Dirinya juga memaparkan sejumlah program religius institusinya, seperti “Shalat Jumat Keliling”, “Subuh Keliling”, hingga kewajiban pembacaan Asmaul Husna usai apel pagi. Langkah ini diklaim sebagai upaya membangun wajah Polri yang lebih humanis.
Ketua MUI Pangandaran K.H. Harun Al-Aziz menyambut positif keterbukaan tersebut. Menurutnya, sinergi antara umara (pemerintah/polisi) dan ulama adalah kunci menjaga stabilitas sosial di Pangandaran.






