PANGANDARAN – Menjelang satu tahun kepemimpinan Citra Pitriyami di Kabupaten Pangandaran, publik disuguhi satu narasi besar: penyehatan fiskal. Sebutan “Ibu Penyehatan Defisit” mulai menggema di koridor-koridor kekuasaan dan media sosial.
Namun, di balik julukan yang terdengar heroik itu, tersimpan pertanyaan krusial: sejauh mana efektivitas langkah yang diambil. Dan apakah rakyat benar-benar merasakan dampaknya?
Warisan Defisit dan Langkah Berani
Harus diakui, Citra tidak mewarisi “karpet merah”. Ia menerima tongkat estafet kepemimpinan saat Pangandaran sedang bergelut dengan lubang defisit yang cukup dalam. Warisan beban anggaran dari periode sebelumnya memaksa Citra untuk memutar otak lebih keras daripada sekadar melakukan seremoni gunting pita.
Langkah-langkah yang diambil memang tampak radikal:
- Efisiensi Belanja Daerah: Pemangkasan anggaran di pos-pos yang dianggap tidak mendesak.
- Optimalisasi PAD: Menggenjot sektor pariwisata sebagai tulang punggung pendapatan.
- Restrukturisasi Hutang: Upaya menata kembali kewajiban daerah agar tidak mencekik arus kas.
Mengapa Sebutan “Ibu Penyehatan”?
Julukan ini tidak lahir di ruang hampa. Di bawah kendali Citra, ada upaya sistematis untuk membawa Pangandaran keluar dari zona merah keuangan. Gaya kepemimpinannya yang cenderung “teliti” dalam angka-angka APBD membuatnya dipandang sebagai sosok manajer krisis yang dibutuhkan saat ini.
Namun, gaya CEKBER.com selalu mengajarkan kita untuk melihat apa yang ada di balik angka. Jika penyehatan defisit dilakukan dengan cara memangkas subsidi atau memperlambat pembangunan infrastruktur dasar, maka “penyehatan” ini adalah pil pahit bagi masyarakat kecil.
”Kepemimpinan bukan hanya soal menyeimbangkan neraca di atas kertas, tapi memastikan perut rakyat tetap terisi saat angka-angka itu diperbaiki.”
Tantangan Sisa Waktu
Menjelang 365 hari ini, rapor Citra belum sepenuhnya tuntas. Defisit mungkin berkurang, namun tantangan baru muncul:
Daya Beli Masyarakat: Bagaimana efisiensi anggaran tidak memukul ekonomi lokal?
- Infrastruktur Pariwisata: Apakah pembenahan fiskal mengorbankan kualitas destinasi unggulan?
- Kesejahteraan Pegawai: Isu keterlambatan tunjangan atau honorer yang kerap menghantui daerah defisit harus tuntas.
- Kesimpulan: Bukan Sekadar Angka
Citra Pitriyami telah menunjukkan bahwa dirinya bukan pemimpin yang “main aman”. Ia berani masuk ke sarang masalah yang paling sensitif: keuangan daerah. Namun, gelar “Ibu Penyehatan Defisit” akan benar-benar sahih jika pada akhir tahun pertama ini, Pangandaran bukan hanya sehat secara laporan BPK, tapi juga sehat secara sosial dan ekonomi.
Publik CEKBER.com tentu akan terus menanti: apakah ini awal dari kebangkitan Pangandaran, atau sekadar manajemen krisis yang bersifat sementara?






