PANGANDARAN, CEKBER.com – Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak meninjau langsung lokasi insiden anjloknya Jembatan Gantung Pongpet (Merah Putih) di Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Senin 14 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Maruli menyampaikan permohonan maaf atas insiden ambruknya sebagian struktur jembatan yang terjadi tak lama setelah diresmikan pada akhir Agustus lalu. Ia menegaskan TNI AD bertanggung jawab penuh dan siap melakukan evaluasi serta rekonstruksi menyeluruh.
Tali Sling Putus dan Target Rekonstruksi 2 Bulan
Berdasarkan hasil investigasi awal di lapangan, Maruli mengonfirmasi bahwa penyebab utama anjloknya jembatan gantung tersebut adalah putusnya tali sling penahan utama. Insiden ini sempat menarik perhatian publik dan viral di media sosial.
Maruli menjelaskan, proses rekonstruksi jembatan diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan. Pihaknya memilih untuk merombak ulang struktur jembatan demi memastikan kekuatan dan keamanan konstruksi jangka panjang.
”Penyebabnya murni karena tali sling yang putus. Secara institusi, kami memohon maaf atas kejadian ini. Rekonstruksi kami perkirakan memakan waktu sekitar dua bulan. Kalau pengerjaannya digenjot pagi, siang, dan malam, mudah-mudahan bisa lebih cepat. Lebih baik kita bongkar dari awal agar kualitas konstruksinya jauh lebih baik,” ujar Maruli di lokasi.
Tambah Fasilitas Air Bersih untuk Warga
Selain memantau perbaikan jembatan, KASAD juga menyoroti kebutuhan dasar masyarakat sekitar, khususnya ketersediaan air bersih. Menanggapi keluhan warga mengenai kurangnya pasokan air, TNI AD langsung mengambil langkah nyata dengan menambah titik pengeboran sumur air bersih.
”Musibah ini kita ambil hikmahnya. Saat meninjau ke sini, ternyata kita tahu warga masih kekurangan air bersih. Sebelumnya sudah dibuat sumur bor di empat titik, tetapi karena masih kurang, nanti akan kita buatkan titik sumur bor tambahan untuk warga,” kata Maruli.
Kejar Target 5.000 Jembatan Secara Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Maruli juga memaparkan progres program pembangunan jembatan TNI AD di seluruh Indonesia. Pihaknya optimistis dapat mencapai target pembangunan hingga 5.000 jembatan pada tahun ini guna membuka keterisolasian daerah dan memangkas efisiensi waktu tempuh masyarakat.
Saat ini, sekitar 3.400 unit jembatan sedang dalam proses pengerjaan, dengan lebih dari 2.700 unit di antaranya telah selesai terbangun. Jenis jembatan yang dibangun mencakup tipe gantung, Bailey, Armco, hingga beton.
”Target kita 5.000 jembatan tahun ini dan saya kira bisa tercapai. Saat ini ada 3.400-an yang sedang dikerjakan dan 2.700 lebih sudah selesai. Kehadiran jembatan ini penting sebagai jalur perintis emergency untuk memangkas waktu tempuh warga secara signifikan,” jelasnya.
Terapkan Metode Swakelola dan Gotong Royong
Dalam proses pengerjaannya, proyek jembatan TNI AD menerapkan sistem swakelola tipe 2 yang melibatkan partisipasi aktif warga sekitar secara bergotong royong.
Menurut Maruli, skema padat karya ini dipilih tidak hanya untuk mempercepat proses pembangunan dan menghemat biaya, tetapi juga untuk memberikan dampak ekonomi langsung serta menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap infrastruktur lokal.
”Dengan sistem gotong royong ini, pembiayaan jadi jauh lebih efisien sekaligus menggerakkan perekonomian warga lokal. Namun, faktor keselamatan dan kekuatan teknis tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar,” ucapnya.






Tinggalkan Balasan