WARTA  

Menelusuri Sumur Abadi 1926: Mitos Penjaga Putih dan Air yang Melawan Kemarau

Dibangun sejak 1926, sumur ini bukan sekadar sumber mata air bagi warga, melainkan ruang di mana realitas dan mitos berkelindan erat selama satu abad. ist

BERITA ​PANGANDARAN – Di sudut Dusun Neglasari, Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sebuah sumur tua berdiri sebagai saksi bisu melintasi zaman. Dibangun sejak 1926, sumur ini bukan sekadar sumber mata air bagi warga, melainkan ruang di mana realitas dan mitos berkelindan erat selama satu abad.

​Meski teknologi pompa air modern telah merambah desa, sumur ini tetap kokoh. Tak ada yang tahu pasti siapa sosok yang pertama kali menggali tanah sedalam belasan meter itu. Namun, bagi warga setempat, sumur tersebut memiliki “nyawa” yang menuntut penghormatan.

​Bisikan dan Bayangan Putih

​Aura mistis begitu kental menyelimuti area sumur. Warga kerap menceritakan pengalaman di luar logika yang dialami saat hari mulai gelap. Suara langkah kaki yang berat di keheningan malam hingga bisikan halus saat warga sedang menimba air menjadi “menu” harian yang sudah dianggap lazim.

Baca juga:  DPRD Pangandaran Soroti Masalah Drainase Tak Tertata, Siap Ambil Langkah Tegas

​”Beberapa orang pernah melihat bayangan putih yang tiba-tiba hilang saat didekati,” ujar salah satu warga dalam gumaman yang berkembang di Dusun Neglasari.

​Keyakinan akan adanya penjaga tak kasat mata membuat warga sangat menjaga laku dan tutur kata di sekitar lokasi. Sebuah fragmen cerita yang populer adalah tentang seorang pendatang yang jatuh sakit secara misterius setelah sesumbar dan berkata kasar di dekat sumur. Penyakitnya baru sembuh setelah pihak keluarga melakukan permohonan maaf secara adat.

​Etika di Balik Tradisi

​Karni, pemilik lahan sekaligus penjaga sumur tua tersebut, menekankan bahwa cerita-cerita ini bukanlah sarana untuk menyebar ketakutan. “Bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihormati,” ujar Karni saat ditemui pada Minggu 1 Februari 2026.

Baca juga:  Waspada Glaukoma, RSUD Pandega Pangandaran Imbau Masyarakat Lakukan Deteksi Dini

​Menurutnya, penghormatan tersebut diwujudkan melalui ritual khusus. Sebelum membersihkan atau memperbaiki area sekitar, warga biasanya menyiapkan sesaji. Ritual ini dipandang sebagai bentuk tabik atau penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan sumber kehidupan tersebut.

​Oase yang Tak Pernah Kering

​Di luar selimut mistisnya, sumur ini menyimpan keajaiban hidrologi. Sejak zaman kolonial hingga era digital, sumur ini diklaim tidak pernah kering. Bahkan saat musim kemarau ekstrem melanda Pangandaran dan sumur-sumur modern di sekitarnya surut, sumur 1926 ini tetap melimpah.

​Keunggulan Air Sumur Tua Paledah:

● Kuantitas: Tidak pernah surut meski kemarau panjang.
● Kualitas: Air tetap jernih dan tidak berbau.
● Keyakinan: Dipercaya membawa ketenangan batin dan keselamatan bagi penggunanya.

Baca juga:  Wisatawan Asal Tasikmalaya Tewas Saat Berenang di Bangkai Kapal Viking Pangandaran

​”Dari dulu airnya tetap jernih, tidak pernah surut. Sampai sekarang kondisinya masih selalu begitu,” tambah Karni.

​Penjaga Sejarah yang Tak Lekang Zaman

​Eksistensi sumur di Dusun Neglasari ini membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi. Bagi masyarakat Desa Paledah, sumur ini bukan sekadar lubang berisi air.

Ia adalah monumen sejarah, penjaga tradisi, sekaligus pengingat bahwa ada hal-hal di dunia ini yang mungkin tak selalu bisa dijelaskan oleh nalar, namun nyata dalam kehidupan sehari-hari.

error: Content is protected !!