Polres Pangandaran: Mengukur Rasa Aman di Beranda Selatan Jawa Barat

Kehadiran Polres Pangandaran bukan sekadar gedung baru, melainkan harapan baru. Bagaimana masyarakat menilai kinerjanya di tengah tantangan wisata dan ketertiban? Simak ulasannya.

PANGANDARAN – Debur ombak Pantai Barat tak pernah benar-benar sepi. Di balik riuh rendah wisatawan yang berebut matahari terbenam, dan di sela-sela deru mesin perahu nelayan yang membelah pagi, ada satu elemen yang kini semakin terasa denyutnya: kehadiran korps baju cokelat.

​Sejak resmi berdiri sendiri dan berpisah dari induknya di Ciamis, Kepolisian Resor (Polres) Pangandaran memikul beban yang tidak ringan. Ia bukan sekadar institusi penegak hukum di sebuah kabupaten baru. Ia adalah “penjaga gawang” bagi salah satu destinasi wisata paling strategis di Jawa Barat.

​Bagi masyarakat Pangandaran, mulai dari pedagang asongan di bibir pantai, nelayan di pelelangan, hingga warga di pelosok Langkaplancar, kehadiran Polres sendiri adalah sebuah milestone. Namun, pertanyaannya kini bukan lagi soal “kapan berdiri”, melainkan “apa dampaknya?”.

​Di mata masyarakat, Polres Pangandaran kini berdiri di dua kaki: satu kaki berpijak pada ekspektasi pelayanan yang cepat, kaki lainnya pada tantangan menjaga ketertiban di wilayah yang perputarannya uangnya tak pernah tidur.

​Memangkas Jarak, Membuka Akses

​Mari bicara soal hal yang paling elementer: birokrasi. Dulu, bagi warga Parigi atau Cijulang, mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM) atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) adalah sebuah perjalanan “ziarah” ke Ciamis yang memakan waktu dan biaya. Jarak puluhan kilometer itu bukan hanya melelahkan, tapi juga menciptakan celah kemalasan administratif.

​Kehadiran Polres Pangandaran secara fisik telah memangkas jarak psikologis dan geografis tersebut. Di mata publik, ini adalah kemenangan pertama. Layanan kini lebih dekat. Masyarakat merasakan kehadiran negara di halaman rumah mereka sendiri. Program-program “jemput bola” yang kerap dilakukan ke desa-desa pun menjadi nilai tambah yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Baca juga:  Aksi Demonstrasi di Pangandaran Berjalan Kondusif, Bupati Apresiasi Mahasiswa

​Namun, kedekatan fisik ini membawa konsekuensi. Mata masyarakat kini melihat lebih jeli. Transparansi pelayanan menjadi taruhan. Jika dulu alasan “jauh” bisa menjadi pemakluman atas lambatnya proses, kini alasan itu tak lagi laku. Publik menuntut kecepatan yang setara dengan kedekatan jarak tersebut.

​Ujian di Musim Libur: Antara Macet dan “One Way”

​Ujian sesungguhnya bagi Polres Pangandaran bukanlah menangkap maling ayam, melainkan “menjinakkan” gelombang manusia saat musim libur panjang (Nataru atau Lebaran). Di sinilah rapor kinerja mereka dinilai secara massal dan real-time oleh publik.

​Rekayasa lalu lintas, seperti sistem satu arah (one way) yang kerap diterapkan di jalur wisata, adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, wisatawan dan pengusaha hotel mengapresiasi kelancaran arus. Kemacetan horor yang dulu bisa mengular hingga berjam-jam kini lebih terurai. Petugas yang berdiri berjam-jam di bawah terik matahari mengatur simpang-simpang krusial mendapatkan hormat tersendiri.

​Namun, di sisi lain, warga lokal yang mobilitas hariannya terganggu kerap menggerutu. Di sinilah seni komunikasi diuji. Masyarakat menilai Polres Pangandaran cukup responsif dalam melakukan sosialisasi, meski gesekan-gesekan kecil di lapangan akibat ketidaktahuan rute masih kerap terjadi.

​Kehadiran polisi di titik-titik rawan macet bukan lagi dianggap sebagai “penebar tilang”, melainkan “pembuka jalan”. Pergeseran persepsi ini penting. Masyarakat mulai melihat polisi lalu lintas sebagai mitra kelancaran, bukan sekadar pengawas kesalahan.

​Wisata Ramah dan Rasa Aman

​Pangandaran hidup dari pariwisata. Dan pariwisata, sangat bergantung pada isu keamanan. Isu sekecil apapun, pencurian helm, getok harga parkir, hingga premanisme, bisa viral dalam hitungan detik dan membunuh reputasi daerah.

Baca juga:  Retorika Gizi dalam Piring Murah: Menyoal Anggaran Makan Gratis 2026

​Di mata pelaku usaha wisata, kehadiran Polres Pangandaran dengan Patroli Satpamobvit (Satuan Pengamanan Objek Vital) di pesisir pantai memberikan efek deterens (pencegah) yang kuat. Polisi berkuda atau yang menggunakan ATV di pasir putih bukan sekadar atraksi visual bagi turis untuk berswafoto. Itu adalah sinyal: “Kawasan ini diawasi.”

​Masyarakat lokal juga menyoroti peran polisi dalam menindak peredaran minuman keras (miras) dan knalpot brong yang bising. Dua hal ini adalah “penyakit” yang kerap dikeluhkan warga. Ketegasan Polres Pangandaran dalam merazia gudang miras atau menertibkan geng motor diapresiasi sebagai upaya menjaga marwah Pangandaran sebagai wisata yang santun dan family-friendly.

​Namun, publik juga kritis. Masih ada suara-suara sumbang terkait konsistensi. Masyarakat tidak ingin penertiban hanya dilakukan saat ada kejadian viral atau saat ada kunjungan pejabat tinggi. Konsistensi “siskamling” modern inilah yang terus ditagih.

​Sisi Humanis: Jumat Curhat dan Polisi Penolong

​Gaya pemolisian (policing style) di era modern tak bisa lagi mengandalkan wajah garang dan senjata laras panjang. Masyarakat Pangandaran, yang kental dengan budaya Sunda pesisir yang egaliter namun santun, merindukan sosok polisi yang “ngawangkong” (mengobrol).

​Program seperti “Jumat Curhat” dinilai cukup efektif meruntuhkan tembok birokrasi. Kapolres yang mau duduk lesehan mendengar keluhan nelayan soal solar, atau curhatan ibu-ibu soal kenakalan remaja, menciptakan ikatan emosional.

​Di mata masyarakat, polisi kini lebih terlihat manusiawi. Kisah-kisah viral tentang polisi yang membantu menyeberangkan lansia, mendorong mobil mogok, atau menemukan anak yang terpisah dari orang tuanya di pantai, membangun narasi positif. Polisi bukan lagi sosok yang ditakuti, tapi sosok yang dicari saat butuh pertolongan.

​Tantangan Internal: Integritas dan Fasilitas

​Tentu, tidak ada gading yang tak retak. Sebagai institusi baru, masyarakat memaklumi keterbatasan fasilitas dan personel yang dimiliki Polres Pangandaran. Gedung yang masih dalam tahap penyempurnaan atau jumlah personel yang belum ideal dibanding luas wilayah, adalah fakta yang dimaklumi.

Baca juga:  Dua Klinik Tak Berizin di Pangandaran, Satu Sudah Ditutup dan Ditangani Polisi

​Namun, toleransi masyarakat sangat tipis soal integritas. Isu pungutan liar (pungli) di jalanan atau keberpihakan dalam penanganan kasus adalah hal yang paling sensitif. Di era media sosial, satu kesalahan oknum bisa menghapus seribu kebaikan institusi.

​Masyarakat Pangandaran berharap Polres mereka “bersih” sejak dari lahir. Jangan sampai budaya-budaya lama yang kurang baik terbawa ke institusi baru ini. Sorotan mata publik sangat tajam pada gaya hidup anggota kepolisian di daerah kecil di mana semua orang saling mengenal. Gaya hidup sederhana dan merakyat akan jauh lebih dihormati daripada pamer kemewahan.

​Epilog: Menjaga Asa di Ujung Selatan

​Pada akhirnya, kehadiran Polres Pangandaran di mata masyarakat adalah sebuah oase. Ia adalah jawaban atas doa panjang tentang kemandirian daerah. Grafik kepercayaan publik tampaknya sedang mendaki. Indikatornya sederhana: warga semakin berani melapor, wisatawan merasa lebih nyaman, dan ruang-ruang publik terasa lebih teratur.

​Namun, berpuas diri adalah pantangan. Pangandaran akan terus berkembang, tantangan kriminalitas akan semakin canggih, dan ekspektasi publik akan semakin tinggi. Polres Pangandaran harus terus berlari, bukan hanya untuk mengejar penjahat, tapi untuk mengejar kepercayaan masyarakat yang dinamis.

​Masyarakat Pangandaran telah “menitipkan” rasa aman mereka di pundak Polres baru ini. Sebuah titipan yang berat, namun mulia. Seperti mercusuar di Batu Hiu yang tak pernah lelah memandu kapal, demikianlah harapan warga terhadap polisi mereka: tegak lurus, menerangi, dan tak goyah dihantam badai.

error: Content is protected !!