PANGANDARAN – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Databoks mengungkap perjalanan panjang Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dalam memerangi kemiskinan selama sepuluh tahun terakhir. Sebagai daerah yang mengandalkan sektor pariwisata, statistik kemiskinan di wilayah ini menjadi cermin langsung dari kesehatan ekonomi masyarakatnya.
Era Penurunan dan Titik Terendah (2015-2019)
Pada awal masa pembentukannya sebagai kabupaten mandiri, Pangandaran menghadapi tantangan besar dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi, berada di kisaran 10,76% pada tahun 2015. Namun, lewat percepatan pembangunan infrastruktur dan promosi wisata, angka ini terus ditekan secara konsisten setiap tahunnya.
Puncaknya terjadi pada 2019, di mana Pangandaran mencapai titik kemiskinan terendah dalam sejarahnya, yakni 7,71%. Saat itu, ekonomi pesisir dianggap telah menemukan pola pertumbuhannya yang ideal.
Hantaman Pandemi dan Guncangan Ekonomi (2020-2021)
Narasi positif tersebut terhenti seketika saat pandemi COVID-19 melanda. Sebagai wilayah yang denyut jantungnya ada pada kerumunan wisatawan, kebijakan pembatasan sosial menjadi pukulan telak.
● Pada 2020, angka kemiskinan melonjak kembali ke 8,99%.
● Tahun 2021 menjadi masa terberat dengan angka kemiskinan menyentuh 9,65%.
Lonjakan ini mencerminkan betapa rentannya ekonomi yang hanya bergantung pada satu sektor tanpa diversifikasi yang kuat.
Masa Pemulihan dan Kondisi Terkini (2022-2025)
Pasca-pandemi, Pangandaran menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Grafik mulai melandai kembali seiring dibukanya pintu-pintu wisata.
● 2022: Turun ke angka 9,32%.
● 2024: Berhasil ditekan menjadi 8,75%.
● 2025: Data terbaru mencatat angka kemiskinan berada pada level 8,03%.
Angka 8,03% pada tahun 2025 menunjukkan bahwa meskipun sudah jauh lebih baik dibandingkan masa pandemi, Pangandaran masih berjuang untuk kembali ke posisi “keemasan” pra-pandemi tahun 2019 yang berada di level 7,71%.
Tantangan Garis Kemiskinan dan Desil 1
Di balik penurunan persentase tersebut, terdapat catatan penting mengenai Garis Kemiskinan yang kini berada di angka Rp486.285 per kapita/bulan. Artinya, kenaikan harga kebutuhan pokok tetap membayangi masyarakat yang berada tepat di atas garis kemiskinan agar tidak jatuh miskin kembali.
Selain itu, masih adanya puluhan ribu warga dalam kategori Desil 1 (kemiskinan ekstrem) menjadi pekerjaan rumah utama bagi pemerintah daerah di tahun-tahun mendatang.
Kesimpulan
Statistik 2015-2025 menunjukkan bahwa Pangandaran adalah kabupaten yang tangguh dalam menghadapi krisis. Namun, ketergantungan pada sektor wisata tetap menjadi pedang bermata dua. Kedepannya, stabilitas ekonomi memerlukan penguatan di sektor lain, seperti pertanian dan UMKM agar angka kemiskinan tidak lagi mudah goyah oleh guncangan eksternal.
*Sumber: BPS Jawa Barat & Databoks Katadata.






