PANGANDARAN, CEKBER.com – Genap satu tahun sudah pasangan Citra Pitriyami dan Ino Darsono menjabat sebagai nakhoda Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Dalam kurun waktu 365 hari sejak pelantikan pada 20 Februari 2025, duet kepemimpinan ini mulai menunjukkan hasil kerja nyata. Fokus utama terlihat pada sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi, sekaligus pembenahan manajemen fiskal untuk menyelamatkan napas APBD.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pangandaran yang dirilis akhir Desember 2025, angka kunjungan wisatawan ke daerah yang dijuluki “Bali-nya Jawa Barat” ini mencatatkan rekor impresif.
Kunjungan Wisatawan Melonjak 28,78 Persen
Sektor pariwisata menjadi sorotan utama dalam rapor satu tahun kepemimpinan Citra-Ino. Data menunjukkan, jumlah wisatawan pada periode Januari hingga November 2025 mencapai 193,24 juta orang.
Angka tersebut melonjak tajam sebesar 28,78 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 150,05 juta kunjungan.
”Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator pulihnya kepercayaan publik terhadap tata kelola destinasi kita,” ujar perwakilan pemerintah daerah dalam keterangan resminya, baru-baru ini.
Keberhasilan ini disebut-sebut sebagai buah dari langkah taktis pasangan Citra-Ino dalam melakukan penataan kawasan pantai secara menyeluruh, digitalisasi sistem tiket (e-ticketing), serta penguatan promosi yang terintegrasi.
Menambal Kebocoran dan Efisiensi Anggaran
Di balik gemerlap angka wisata, pasangan ini juga dihadapkan pada tantangan fiskal yang berat. Mewarisi defisit anggaran dan penurunan dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp 144 miliar, Citra-Ino memilih langkah “ikat pinggang”.
Bupati Citra Pitriyami melakukan efisiensi ketat dengan memangkas kegiatan minim manfaat di setiap SKPD. Fokus utama lainnya adalah menambal kebocoran retribusi wisata. Hasilnya mulai terlihat saat libur Lebaran 2025, di mana PAD sektor wisata dan perhotelan menyentuh angka Rp 9 miliar, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 6 miliar.
Ketegasan juga ditunjukkan dengan pemeriksaan 110 petugas retribusi oleh Inspektorat untuk memberantas praktik percaloan dan tiket palsu yang selama ini merugikan kas daerah.
Fokus Infrastruktur dan Konektivitas Desa
Selain sektor pesisir, pembangunan infrastruktur juga menjadi prioritas yang mulai dirasakan manfaatnya oleh warga hingga pelosok desa.
Merujuk pada publikasi Statistik Daerah Kabupaten Pangandaran 2025, pemerintah daerah terus meningkatkan konektivitas antar-kecamatan untuk mendukung distribusi hasil bumi dan mobilitas warga.
Salah satu program unggulan yang menjadi catatan penting adalah pengaspalan jalan kabupaten serta penambahan Penerangan Jalan Umum (PJU) melalui gerakan “Pangandaran Terang”. Infrastruktur yang mumpuni ini secara tidak langsung mendorong pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, khususnya pada sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum.
Tantangan SDM dan Indeks Pembangunan Manusia
Meski pembangunan fisik dan pariwisata menunjukkan tren positif, tantangan besar masih membayangi sektor sumber daya manusia (SDM).
Pasangan Citra-Ino terus berupaya memacu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui penguatan fasilitas kesehatan, baik di tingkat Puskesmas maupun RSUD. Upaya menekan angka stunting pun tetap menjadi prioritas nasional yang dikawal ketat di tingkat daerah.
Dalam laporan Indikator Kesejahteraan Rakyat 2025, terdapat tren positif pada Angka Harapan Lama Sekolah. Hal ini menunjukkan akses pendidikan di Pangandaran mulai merata hingga ke wilayah pegunungan.
Catatan Kritis dan Pekerjaan Rumah
Kendati demikian, catatan kritis tetap datang dari sejumlah pengamat kebijakan publik lokal. Terdapat paradoks statistik yang perlu diurai: angka pengangguran di Pangandaran merupakan yang terendah di Jawa Barat (1,9 persen), namun angka kemiskinan masih bertengger di angka 9 persen.
Pemerintah daerah ditantang untuk memastikan “kue ekonomi” dari sektor pariwisata dapat terdistribusi merata ke pelaku UMKM lokal, tidak hanya terserap oleh korporasi besar.
Selain itu, masalah klasik seperti pengelolaan sampah, limbah di area wisata, serta mitigasi bencana pesisir tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus dituntaskan di sisa masa jabatan pasangan Citra-Ino.






