Terminal Pangandaran kini hidup segan mati tak mau. Di tengah janji revitalisasi Mei 2025, wajah gerbang wisata ini masih menyisakan tanya: benarkah akan berubah atau sekadar ganti kulit?
PANGANDARAN – Dulu, ia adalah denyut nadi. Gerbang pertama bagi para pelancong yang ingin mencicipi asinnya garam Pantai Selatan. Hiruk-pikuk kernet, deru mesin bus tua, dan aroma solar yang pekat adalah “ucapan selamat datang” yang otentik. Namun, lihatlah Terminal Pangandaran hari ini. Ia seperti orang tua yang ditinggalkan anak-anaknya: sunyi, renta, dan kehilangan wibawa.
Sudah lama terminal ini hidup dalam paradoks. Di satu sisi, Pangandaran bersolek menjadi destinasi wisata kelas dunia. Hotel-hotel menjulang, pantai ditata, jalanan diperlebar. Namun, terminalnya? Ia tertinggal jauh di belakang, terperangkap dalam “riwayatmu kini” yang memilukan.
Mimpi yang Tertunda dan Janji Mei 2025
Masih segar dalam ingatan, janji manis itu terucap pada awal tahun lalu. Rencana pembangunan kembali Terminal Tipe B Pangandaran yang digadang-gadang dimulai Mei 2025. Konsepnya terdengar meyakinkan: tidak lagi “dua muka”, pintu masuk terpusat, dan kantor pengelola yang mentereng di tengah.
Namun, bagi warga dan sopir angkutan, janji hanyalah janji sampai tiang pancang benar-benar berdiri. Sejarah mencatat, terminal ini kerap kali menjadi objek wacana. Ingat rencana pemindahan ke Cijulang? Wacana mengintegrasikannya dengan Bandara Nusawiru dalam format Terminal Tipe A yang megah itu sempat membuat kita bermimpi tinggi. Katanya, akan ada konsep “Etnik Nusantara Modern”. Tapi realitas di lapangan seringkali lebih pahit dari kopi pagi para sopir yang menunggu penumpang yang tak kunjung datang.
Digerogoti “Travel Gelap” dan Zaman
Sunyinya Terminal Pangandaran bukan semata soal bangunan yang kusam. Ia adalah korban dari perubahan zaman yang gagal diantisipasi. Bus-bus besar kini kalah pamor dengan kendaraan pribadi dan ini yang paling menyakitkan, serbuan “travel gelap” yang menjemput bola hingga ke depan pintu rumah.
Para sopir bus resmi di terminal hanya bisa mengelus dada. Mereka terikat retribusi dan aturan trayek, sementara pesaing ilegal melenggang bebas di jalanan. Akibatnya, terminal bukan lagi tempat transit, melainkan museum angkutan umum. Lapak-lapak pedagang asongan yang dulu riuh, kini banyak yang tutup atau hanya melamun menunggu satu-dua pembeli.
Salah Arah atau Salah Urus?
Ada kebingungan dalam tata kelola transportasi kita. Di satu sisi, pemerintah daerah ingin memperluas Pasar Pananjung dan menggunakan lahan terminal lama. Di sisi lain, kebutuhan akan simpul transportasi yang layak di jantung wisata tetap mendesak.
Jika revitalisasi yang dijanjikan pemerintah provinsi itu benar-benar terwujud, pertanyaannya adalah: untuk siapa? Membangun gedung terminal itu mudah. Tantangan sesungguhnya adalah “memaksa” sistem transportasi kembali beradab. Tanpa penertiban angkutan ilegal dan integrasi moda transportasi yang nyata, gedung baru nanti hanya akan menjadi monumen kosong.
Epilog
Terminal Pangandaran kini berdiri di persimpangan takdir. Apakah ia akan bangkit menjadi wajah baru pariwisata yang membanggakan, atau terus menjadi catatan kaki yang terlupakan dalam sejarah pembangunan daerah?
Kita tidak butuh sekadar gedung baru dengan cat mentereng. Yang kita butuhkan adalah denyut kehidupan itu kembali. Agar kelak, ketika orang bertanya “Terminal Pangandaran, riwayatmu kini?”, kita bisa menjawab dengan bangga: ia telah lahir kembali, bukan mati suri.






