Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mendampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meresmikan Tugu Panser Saladin di Cijulang. Di balik seremoni, terekam aksi sigap Citra menegur bawahan soal penerangan hingga momen jenaka bersama warga.
BERITA PANGANDARAN – Langit Cijulang yang sedikit berawan, Selasa 20 Januari 2026, tak menyurutkan antusiasme warga yang memadati pelataran Aula Desa Cijulang. Hari itu, sebuah simbol sejarah militer baru ditancapkan di wilayah selatan Jawa Barat ini: Tugu Panser Saladin.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami tampak mendampingi langsung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dalam prosesi peresmian tersebut. Mengenakan seragam dinas cokelat (PDH), Citra menyambut Jenderal Agus yang hadir dengan seragam loreng lengkap, berjalan kaki menyapa kerumunan warga yang menanti di sisi jalan.
Diplomasi Lampu Sorot dan Telepon Dadakan
Peresmian ini tak sekadar seremoni tanda tangan prasasti. Ada dinamika lapangan yang terekam jelas. Saat meninjau fisik panser yang kini menjadi monumen gagah tersebut, Jenderal Agus sempat menunjuk ke arah instalasi penerangan di sekitar tugu.
Merespons hal itu, Citra dengan lugas menjelaskan kondisi teknis di lapangan. “Nanti harus pakai lampu sorot, tapi merkurinya saya nyalakan nanti malam,” ujar Citra kepada Panglima TNI.
Tak ingin sekadar berjanji, Citra langsung menunjukkan gaya kepemimpinan on the spot. Di tengah kerumunan, ia mengeluarkan telepon selulernya dan menghubungi dinas terkait. Suaranya terdengar tegas, memastikan instruksi didengar jelas, tak hanya oleh bawahan di ujung telepon, tapi juga oleh warga yang mengerumuninya.
“Suruh ke Tugu Cijulang, ke bundaran yang ada panser. Ada merkuri empat yang mati, tolong betulkan dulu ya,” perintah Citra via telepon.
Ia menegaskan bahwa perbaikan harus dilakukan segera karena ia sedang berada di tengah masyarakat yang menjadi saksi. “Saya dihadapan masyarakat jadi saksi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak di sini. Awas ya, pokoknya nanti malam harus nyala,” tegasnya menutup panggilan, yang disambut riuh dukungan warga.
Sisi Humanis dan Nostalgia Vespa
Suasana cair juga mewarnai kunjungan kerja Panglima TNI di kampung halamannya tersebut. Usai menandatangani prasasti peresmian, Jenderal Agus tampak santai mencoba menaiki sebuah Vespa klasik berwarna hijau army dan mengenakan helm retro bermotif Union Jack, memancing tawa dan tepuk tangan hadirin.
Sementara itu, Citra Pitriyami tak berjarak dengan warganya. Dalam satu momen, ia terlihat membetulkan jilbab seorang ibu lansia sambil berkelakar dalam Bahasa Sunda yang kental. “Bibirnya mungil, hidungnya… ayo, masih gaya ini waktu mudanya,” canda Citra yang membuat sang nenek tersipu malu dan tertawa lepas.
Interaksi tanpa sekat ini menjadi warna tersendiri. Citra bahkan sempat mengatur arus lalu lintas warga agar tidak membahayakan diri di jalan raya, sambil terus melayani permintaan swafoto. “Indung aing ieu (Ini ibu saya),” ucapnya merangkul akrab seorang warga, menunjukkan kedekatan emosional pemimpin daerah dengan rakyatnya.
Ikon Baru Semangat Kebangsaan
Kehadiran Tugu Panser Saladin ini diharapkan bukan sekadar pajangan besi tua. Panser Saladin sendiri memiliki jejak sejarah panjang dalam alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AD, khususnya Kavaleri, yang pernah menjadi tulang punggung pertahanan negara di masa lampau.
Dalam keterangannya usai acara, Citra Pitriyami menekankan pentingnya monumen ini sebagai edukasi sejarah dan pariwisata. “Semoga menjadi pengingat semangat kebangsaan dan ikon baru bagi Cijulang, Pangandaran,” tutur Citra.
Ia berharap keberadaan tugu ini dapat memantik rasa nasionalisme generasi muda Pangandaran, sekaligus mempercantik tata kota Cijulang sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat.
Peresmian ditutup dengan suasana hangat, di mana lampu-lampu jalan sesuai janji sang Bupati dipastikan akan menerangi sang ‘penjaga’ besi mulai malam nanti.






