PANGANDARAN, CEKBER.com – Ancaman krisis populasi lobster di perairan Pangandaran kian nyata di depan mata. Masifnya praktik penangkapan bayi lobster (baby lobster atau benur) menuai kritik tajam dari Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari Pangandaran, Jeje Wiradinata.
Ia mendesak seluruh elemen, terutama para pemangku kebijakan, untuk segera turun tangan menghentikan eksploitasi yang merugikan nelayan secara jangka panjang ini.
Peringatan tersebut dilontarkan Jeje saat melakukan peninjauan langsung hasil tangkapan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat. Di sana, ia memamerkan temuan langka: seekor lobster jenis Mutiara dengan bobot hampir menyentuh angka satu kilogram.
”Hampir 13 tahun, baru kali ini saya lihat mutiara sebesar ini. Beratnya sudah hampir satu kilo,” ujar Jeje dengan nada prihatin terhadap langkanya tangkapan kualitas super tersebut di perairan Pangandaran saat ini.
Potensi Ekonomi Jutaan Rupiah yang Menguap
Dalam kesempatan itu, Jeje menyoroti kerugian ekonomi masif yang dialami nelayan akibat ketidaksabaranmemanen benur. Ia membandingkan harga lobster muda yang diperkirakan baru berusia enam bulan dengan lobster dewasa yang dibiarkan hidup lebih lama di laut.
Lobster muda berukuran kecil yang ditangkap nelayan saat ini, kata Jeje, hanya laku dijual seharga Rp300.000 per kilogram. Satu kilogram tersebut bisa berisi hingga lima ekor lobster. Angka ini berbanding terbalik dengan nilai jual seekor lobster Mutiara dewasa yang menembus Rp1.050.000 per kilogram.
”Coba bayangkan, kalau baby lobster ini tidak disakiti dan dibiarkan hidup hingga besar seperti ini, maka uang yang didapatkan nelayan akan berkali-kali lipat. Satu ekor saja bisa sejuta lebih,” tuturnya mengedukasi para nelayan yang hadir.
Krisis Ekologi dan Merosotnya Tangkapan
Selain faktor ekonomi, masifnya penangkapan benur menjadi alarm bahaya bagi ekologi laut Pangandaran. Jeje mengenang masa lalunya ketika ekosistem pesisir belum tereksploitasi seperti sekarang. Pada masa itu, nelayan bisa membawa pulang tangkapan dalam jumlah besar dengan sangat mudah.
”Di zaman saya kecil, bapak saya mencari lobster itu dapatnya bisa sampai satu kuintal atau 30 kilo. Dulu uang Rp60-70 ribu itu sudah sangat besar,” kenangnya.
Kini, jangankan mendapatkan puluhan kilogram, untuk menemukan bibit lobster saja nelayan mulai kesulitan. “Sekarang, mencari benur saja takut tidak ada barangnya. Susah,” tambah Jeje.
Sentilan untuk Pemangku Kebijakan
Kondisi kritis ini mendorong Jeje untuk melontarkan sentilan tajam kepada pemerintah daerah dan institusi terkait. Ia menilai imbauan semata tidak akan cukup tanpa adanya regulasi dan intervensi nyata dari pemegang otoritas.
”Kita ngomong-ngomong seperti ini ke nelayan cuma kan susah. Jadi saya bilang, ini adalah tugas pengambil kebijakan di daerah, para pemegang aturan,” tegasnya.
Jeje menutup kunjungannya dengan sebuah pesan reflektif bagi semua pihak. Ia meyakini bahwa kunci dari kesejahteraan nelayan sejatinya sangat sederhana: memberikan waktu bagi alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
“Kalau semuanya bersinergi menjaga lingkungan dan laut kita, baby lobster ini tidak ditangkap secara serampangan, hasilnya pasti akan Hasilkan gambar: buat jadi foto yang sangat jelas dan kualitas hd. Pertahankan rasio aspek asli. menyejahterakan nelayan kita sendiri,” ucapnya. ***






Tinggalkan Balasan