JAKARTA, CEKBER.com – Studio MNC TV malam itu mendadak riuh. Di bawah sorot lampu panggung yang tajam dan dentuman musik dangdut yang presisi, sosok Rina Aprilia berdiri tegak.
Biduan asal Pangandaran ini bukan sekadar sedang bernyanyi; ia sedang mempertaruhkan mimpi besarnya dalam ajang Dangdut Mania Dadakan (DMD) Panggung Rezeki.
Namun, Rina tidak bertarung sendirian. Di barisan kursi penonton, tampak Ida Nurlaela Wiradinata duduk mengawal.
Kehadirannya bukan sekadar formalitas tokoh daerah, melainkan penegas bahwa talenta pesisir selatan Jawa Barat punya “pelindung” saat mereka mencoba menembus kerasnya industri hiburan ibu kota.
”Terus bernyanyi dengan hati,” tulis Ida dalam sebuah pesan singkat yang ia bagikan. “Kalian layak mendapatkan yang terbaik. Panggung ini adalah bukti kualitas kalian.”
Diplomasi “Support System”
Gaya Ida mengawal artis lokal ini mengingatkan pada pola pendampingan yang intens. Ia tak ragu memboyong semangat dari daerah untuk memastikan Rina, juga talenta lain seperti Yayah dan Jisep Kim, merasa memiliki pijakan yang kuat.
Di mata publik Pangandaran, kehadiran Ida di Jakarta adalah pesan simbolis: bahwa anak-anak daerah tidak boleh merasa kecil saat berhadapan dengan raksasa industri televisi nasional.
Dalam pantauan di lokasi, atmosfer studio terasa berbeda saat nama Pangandaran disebut. Ada kebanggaan yang disuntikkan langsung dari bangku VIP.
Bagi Ida, mendukung Rina Aprilia dkk adalah investasi pada sumber daya manusia, sebuah upaya agar Pangandaran tak hanya dikenal karena deburan ombaknya, tapi juga karena kualitas suaranya.
Mencari Rezeki, Menjemput Prestasi
DMD Panggung Rezeki malam itu memang menjadi ajang pembuktian. Bagi para kontestan, ini adalah jembatan emas. Dengan dukungan yang terorganisir dari rumah, Rina tampil lepas.
Gaun gelap yang ia kenakan seolah kontras dengan gemerlap lampu, namun suaranya tetap menjadi magnet utama. Langkah ini menjadi babak baru bagi skena seni di Pangandaran.
Di bawah kawalan Ida Nurlaela, para seniman muda ini setidaknya telah memenangkan satu hal sebelum kompetisi berakhir: pengakuan dan dukungan penuh dari tanah kelahiran mereka sendiri.
Kini, bola ada di tangan para juri, sementara di belakang panggung, doa dan sokongan terus mengalir deras dari pesisir yang kini tengah “melesat” itu.







Tinggalkan Balasan