Menyesap “Hujan Abadi” di Cukang Taneuh: Sepotong Arizona di Pangandaran

Grand Canyon di Pangandaran. ist

PANGANDARAN bukan hanya soal deburan ombak pantai selatan. Di sudut Desa Kertayasa, mengalir sungai hijau toska yang diapit tebing purba, sebuah kembaran Grand Canyon yang lahir dari rahim tanah Sunda.

​Lamat-lamat suara gemercik air jatuh menimpa permukaan sungai Cijulang. Di atas sana, sebuah jembatan tanah alami sepanjang tiga meter membentang kokoh, menghubungkan dua tebing yang menjulang tinggi. Warga lokal menyebutnya Cukang Taneuh, sang jembatan tanah.

​Namun bagi Bill Jhon, turis yang mempopulerkan tempat ini medio dekade silam, pemandangan ini adalah deja vu. Ngarai hijau yang membelah sungai ini mengingatkannya pada Grand Canyon di Arizona, Amerika Serikat. Sejak saat itu, nama Green Canyon melekat, mengundang ribuan pasang mata untuk membuktikan sendiri keajaiban alam di Jawa Barat ini.

Baca juga:  Dua Puskesmas di Pangandaran Raih Penghargaan Nasional Transformasi Digital BPJS Kesehatan 2025

​Labirin Hijau dan Rahasia Pemandian Putri

​Memasuki area Green Canyon, pengunjung akan disambut oleh mulut gua yang eksotis. Di sini, fenomena unik terjadi: tetesan air terus mengalir dari langit-langit gua, menciptakan impresi “hujan abadi” yang tak pernah kering meski musim berganti.

​Tak hanya soal visual, destinasi di Desa Kertayasa, Pangandaran ini menawarkan titik-titik petualangan yang menggugah adrenalin:

  • ​Gua Cukang Taneuh: Jantung dari Green Canyon dengan stalaktit dan stalagmit yang menawan.
  • ​Batu Tengah & Batu Payung: Formasi batuan unik yang menjadi spot favorit fotografer.
  • ​Pemandian Putri: Kolam alami dengan air jernih yang menyegarkan tubuh setelah perjalanan panjang.

​Antara Ketenangan dan Adrenalin

​Green Canyon adalah kanvas bagi semua jenis pelancong. Bagi mereka yang mencari ketenangan, menyusuri sungai dengan perahu kayu (ketinting) sambil menghirup udara hutan yang lembap adalah pilihan tepat.

Baca juga:  Polres Pangandaran Sebut Proses Penyelidikan Kasus Pencurian di Kawasan Wisata Terus Berjalan

​Namun bagi pencinta tantangan, body rafting adalah menu wajib. Melompat dari tebing setinggi 5 meter atau membiarkan tubuh hanyut mengikuti arus sungai menuju jeram-jeram kecil memberikan sensasi pembebasan yang jarang ditemukan di hiruk-pikuk kota.

​Tips Perjalanan: Waktu terbaik untuk berkunjung adalah musim kemarau. Pada masa ini, air sungai akan berwarna hijau toska jernih. Sebaliknya, saat musim hujan, debit air cenderung naik dan berubah kecokelatan.

​Panduan Menuju Lokasi

​Akses menuju surga tersembunyi ini terbilang ramah bagi pelancong mandiri:

  1. ​Transportasi: Dari Terminal Pangandaran, naiklah angkutan umum menuju Cijulang (jarak ±27 km, waktu tempuh sekitar 40 menit).
  2. ​Dermaga: Dari terminal Cijulang, Anda cukup menempuh 5 menit perjalanan dengan ojek atau sewa mobil menuju Dermaga Ciseureuh.
  3. ​Jam Operasional: * Sabtu – Kamis: 08.00 – 16.00 WIB
    ​Jumat: 13.00 – 16.00 WIB (Buka setelah ibadah salat Jumat)
Baca juga:  Media Sosial Jadi Senjata Utama Bocah Citumang Promosi Wisata

​Fasilitas yang Tersedia

​Pengelola telah menyediakan fasilitas yang cukup mumpuni untuk menjamin kenyamanan wisatawan, mulai dari dermaga perahu yang rapi, pusat informasi, ruang tunggu, hingga deretan warung lokal yang menyajikan kuliner hangat khas pesisir.

​Green Canyon bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah pengingat bahwa alam punya cara sendiri untuk memahat keindahan yang menandingi kemegahan dunia. Jadi, kapan Anda berencana menceburkan diri ke dalam “hujan abadi” ini?

error: Content is protected !!