PANGANDARAN, CEKBER.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini dipastikan belum berdampak pada stabilitas harga kebutuhan pokok di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Sejumlah komoditas pangan utama di pasar domestik terpantau masih berada dalam kondisi normal.
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagin) Kabupaten Pangandaran, mayoritas harga pangan belum mengalami lonjakan akibat fluktuasi kurs mata uang asing tersebut.
Rincian Harga Sembako di Pangandaran
Pantauan di lapangan menunjukkan harga beras, yang menjadi kebutuhan utama masyarakat, masih bertahan di angka normal. Beras jenis medium saat ini dibanderol di kisaran Rp 13.000 per kilogram, sedangkan untuk beras premium dijual seharga Rp 14.500 per kilogram.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas daging, minyak goreng, dan bumbu dapur yang hingga kini fluktuasinya masih terkendali. Saat ini, harga daging sapi tercatat masih stabil di angka Rp 140.000 per kilogram, sementara daging ayam bertahan di kisaran Rp 33.000 per kilogram dan telur ayam berada di angka Rp 26.500 per kilogram.
Untuk komoditas minyak goreng, jenis curah dijual dengan harga Rp 22.000 per liter dan minyak goreng kemasan dibanderol Rp 20.000 per liter. Adapun untuk komoditas bumbu dapur seperti cabai rawit, harganya terpantau masih normal di kisaran Rp 60.000 per kilogram.
Komoditas Impor Paling Rentan Terdampak
Kepala Diskopdagin Pangandaran, Tedi Garnida menjelaskan, pelemahan kurs rupiah biasanya tidak langsung menghantam seluruh komoditas. Sektor yang paling cepat merasakan dampaknya adalah produk-produk yang bahan bakunya mengandalkan keran impor.
”Yang paling cepat terpengaruh biasanya bahan baku impor. Seperti kedelai, karena sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri,” ujar Tedi saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Jumat pagi, 12 Juni 2026.
Tedi menambahkan, potensi dampak terbesar dari pelemahan rupiah ini kemungkinan besar akan dirasakan oleh para pengrajin tahu dan tempe skala lokal yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan dan harga kedelai impor.
”Yang akan terdampak adalah pengrajin tempe dan tahu karena menggunakan bahan baku kacang kedelai. Kalau beras tidak akan terpengaruh,” terangnya.
Dampak Kenaikan BBM Non-Subsidi
Selain mengawasi pergerakan kurs rupiah, pihak pemerintah daerah juga mencermati dampak dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax. Menurut Tedi, kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut cenderung memicu efek domino pada sektor transportasi umum terlebih dahulu ketimbang sektor logistik pangan.
”Biasanya kenaikan BBM berpengaruh pada ongkos kendaraan umum, tapi untuk bahan pokok sampai saat ini belum ada pengaruhnya,” kata Tedi.
Pemerintah Kabupaten Pangandaran menyatakan akan terus melakukan monitoring berkala di sejumlah pasar tradisional guna mengantisipasi adanya spekulasi harga dan memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman bagi masyarakat.






Tinggalkan Balasan